Semangat Baru Koperasi Mencari “Samudra Biru”

JS NEWS – Berapa kali dalam hidup kita, jargon-jargon motivasi hadir tanpa permisi. Motivasi menggempur kita di media sosial, lagi-lagi, tanpa diminta.

Melimpahnya kata-kata bijak memang harus diakui bisa jadi vitamin bagi kita untuk menjalani hari-hari dengan bersemangat.Menjadi manusia bersemangat tentunya memiliki beberapa manfaat. Membuat kita merasa lebih unggul dan bahagia dari kebanyakan orang.Koperasi itu seperti manusia, jika koperasi tidak bersemangat, ia akan menjadi payah dan lemah.

Walaupun masih “berguna”, koperasi dengan mental seperti ini tidak akan berkembang.Ini artinya, seberapa besar dan lama koperasi kita berdiri, tidak peduli sebanyak apa potensi anggota-anggota kita yang berkoperasi, tanpa semangat, koperasi kita tidak akan mampu berevolusi baik secara kelembagaan maupun individual.Segala sesuatu dilingkungan kita telah berubah. Otomatisasi dan pandemi menekan kita untuk berbenah agar tidak punah.Koperasi idealnya juga melakukan langkah serupa.

Sayangnya, perubahan lingkungan objektif, memang tidak selalu berhasil mengubah cara berpikir orang-orang koperasi.Kenapa terjadi seperti ini? jawabannya sederhana, karena memang tidak bersemayam semangat di para anggotanya untuk tumbuh beradaptasi.Koperasi yang eksis hari ini kebanyakan tidak berusaha menyegarkan semangatnya. Mereka menjadikan tradisi, kebiasaan, pengalaman masa lalu dan pola kerja lama sebagai obat generik untuk berbagai macam penyakit yang menjangkiti koperasi.Ini membuat koperasi terjebak mediokrasi dan begitu puas dengan strategi yang standar-standar saja, alias cukup lebih baik sedikit dari pada sebelumnya. Modus operandi semacam inilah yang membonsai koperasi di tanah air kita.Padahal, di abad 21 ini. Banyak variable yang lebih rumit dari abad-abad sebelumnya.

Banyak yang belum kita ketahui, dan tidak bisa kita jawab dengan pengetahuan masa lalu.Koperasi hari ini tidak butuh obat generik yang kedaluwarsa, koperasi kita butuh vaksin yang menjamin daya tahan seumur hidup. “Resep koperasi” dari leluhur yang sudah diuji coba di masa lalu dan masa kini, tidak akan pernah mampu menjadi solusi ideal menuju masa depan.Berangkat dari kegagapan tersebut, koperasi butuh semangat baru. Sebuah semangat yang bukan berorientasi pada apa yang kita pelajari dari masa lalu, tetapi apa yang bisa koperasi kita ciptakan untuk masa depan.Romantisme koperasi abad 18 hingga abad 20, dengan segala idealisme yang adiluhung.

Baca Juga : Inovasi Koperasi itu Aksi, Bukan Cuma Visi!

Nyata mengekang dan membuat koperasi kita kecanduan untuk melestarikan “barang antik”, daripada menghasilkan barang yang benar-benar bermanfaat sekaligus dibutuhkan masyarakat masa kini dan nanti.Koperasi yang malas terus-menerus memompa semangatnya, ia akan menjadi katak dalam tempurung, koperasi semacam ini berisiko tersingkir oleh pendatang baru.

Koperasi-koperasi sekarang butuh semangat baru agar mampu menghasilkan ide baru, cara baru, model baru dan inovasi baru untuk menghadapi perubahan yang semakin berlari cepat kesituasi dunia tanpa kepastian.Dalam istilah yang dipopulerkan W. Chan dan Renee Mauborgne pada buku Blue Ocean Strategy. Semangat baru dibutuhkan oleh para penggiat koperasi untuk berlayar dari “samudra merah” menuju “samudra biru”.“Samudra merah” mewakili ekosistem yang sudah sesak oleh persaingan, sedangkan “samudra biru” adalah “menemukan” ekosistem baru yang mungkin tidak memiliki pesaing sama sekali atau minim persaingan.Semangat baru berlayar ke samudra biru bisa menjadi navigator bagi koperasi kita menjelajah potensi usaha bersama yang bahkan hingga saat ini hampir tidak bisa didefinisikan oleh pendekar-pendekar koperasi masa lalu.

Semangat baru memungkinkan penggiat koperasi untuk menciptakan pengetahuan baru dan pengetahuan inilah yang akan menantang status qou model koperasi konvensional.Dengan demikian, memproduksi pengetahuan baru akan membantu koperasi di Indonesia membuat terobosan total bagi ekosistem koperasi secara keseluruhan.

SUMBER

Share Is Cool