Raksasa Finansial Cina Ping An Tawarkan Solusi Sistem Keuangan di Asia Tenggara

JS NEWS – Ping An Insurance, perusahaan asuransi terbesar kedua di Cina berdasarkan pendapatan atas premi, tengah menaruh harapan besar pada bidang fintech.

Kini mereka mengincar pasar Asia Tenggara. Sadar bahwa solusi fintechuntuk bank serta usaha kecil dan menengah (UMKM) di  kawasan ini sangat besar, Ping An resmi mendaftarkan anak perusahaannya OneConnect Financial Technology di Singapura pada Maret 2018. Sejak saat itu, mereka bergerak cepat untuk memikat para pelanggan potensial.

OneConnect akan menyediakan berbagai layanan software untuk institusi bisnis dan finansial. Layanan mereka mampu memproses pengajuan pinjaman, melakukan penilaian kredit, memberikan layanan pelanggan, pemasaran, dan beragam hal lain secara otomatis.

BACA JUGA : Bagaimana Membangun UX Team yang Ideal untuk Startup Tahap Awal?

Upaya OneConnect di Asia Tenggara dipimpin oleh sang CEO Tan Bin Ru, seorang eksekutif veteran di bidang teknologi yang pernah menjabat sebagai direktur penjualan regional serta mengisi posisi manajerial di Microsoft. Ia juga pernah bekerja sama dengan Hewlett-Packard.

Dalam sesi wawancara dengan Tech in Asia, Tan mengatakan bahwa anggota tim gelombang pertama –termasuk eksekutif Ping An–tiba di Singapura pada Juni 2018. Tim ini menghabiskan waktu enam bulan dengan berbicara pada para pelanggan potensial tentang kebutuhan masing-masing. 

OneConnect tengah melakukan perekrutan. Mereka berupaya menggandakan jumlah karyawan di Asia Tenggara, dengan tujuan merekrut 188 karyawan tahun ini.

Sekitar 60 hingga 70 persen dari posisi yang dibutuhkan akan fokus pada bidang engineering, penelitian, dan pengembangan.

Meski banyak pemain fintech menargetkan konsumen atau UKM, OneConnect mempunyai kelebihan dibanding lainnya. Produk mereka telah diuji coba dan dipakai oleh Ping An, sehingga menjadikan mereka mitra alami untuk berbagai lembaga keuangan terbesar. Penawaran OneConnect juga pada dasarnya adalah versi komersial dari sistem yang digunakan oleh perusahaan induknya.

“Kami tidak menjual apa pun yang belum pernah digunakan Ping An Group. Kami adalah startup dengan perusahaan induk yang baik, sehingga bank bersedia mendengarkan kami.”

Saat ini, OneConnect menjangkau lebih banyak bank dan perusahaan asuransi di seluruh Asia Tenggara. Dengan kantor pusat di Singapura dan telah menampung tim yang terdiri dari hampir 100 karyawan, perusahaan ini baru saja meluncurkan kantor di Indonesia.

Sebuah tim yang terdiri dari 20-30 karyawan TI dan penjualan kini hadir di Indonesia. Mereka mencoba bertemu dengan calon pelanggan selama masa penilaian pertama. Sejumlah tim kecil yang terdiri dari masing-masing selusin karyawan juga telah dikerahkan di Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Kunci dari strategi OneConnect adalah mempekerjakan pemimpin tim yang punya spesialisasi mengenai kawasan Asia Tenggara dan mengirimnya ke markas Ping An di Cina. Di sana, mereka mengidentifikasi produk mana yang sesuai dengan wilayah masing-masing. Tan mencatat bahwa beberapa solusi terlalu spesifik untuk pasar Cina atau tak banyak membantu pengguna di Asia Tenggara.

Tim OneConnect memahami yang terpenting bagi para pelanggan Asia Tenggara saat ini adalah mendapatkan teknologi terbaru. “Sebuah produk yang dikembangkan di Amerika Serikat akan diluncurkan di sana pada tahun pertama, menyusul Eropa pada tahun selanjutnya,” jelas Tan. Saat produk tersebut tiba di Asia Tenggara, teknologi ini sudah berusia tiga tahun.”

Selain itu ada banyak keinginan dari para pemain di kawasan ini untuk membangun transaksi keuangan yang lebih aman, ujar Tan.

Untuk mengatasi persoalan ini, OneConnect mempunyai produk yang memadukan teknologi kecerdasan buatan (AI) dengan teknologi biometrik untuk membuat transaksi perbankan dan kartu kredit lebih aman.

Sejumlah produk juga terintegrasi dengan sistem elektronik know your customer (KYC) yang juga diebut dengan e-KYC Plus. Sistem ini bisa memvalidasi pengguna secara real time.

Tidak seperti sistem reguler yang hanya bergantung pada pengenalan wajah,e-KYC Plus dibundel dengan teknologi voiceprint, dan pengenalan ekspresi mikro untuk menambah lapisan autentikasi. Teknologi ini juga memungkinkan pembukaan rekening bank dalam hitungan menit.

Sistem e-KYC semacam ini relatif baru di Singapura. Pada kuartal pertama 2017, Monetary Authority of Singapore (MAS), bank sentral negara tersebut, meluncurkan alat KYC untuk layanan finansial secara nasional. Tahun lalu, Bank OCBC mengklaim jadi bank pertama di negara tersebut yang mengintegrasikan e-KYC.

“Semua bank mencari cara terbaik untuk melakukan autentikasi pelanggan, jadi produk e-KYC sangat menarik saat ini.”

Solusi ini dapat menjadi penting di Asia Tenggara karena kelemahan yang ada pada penggunaan password sekali pakai. Pada 2016, Asosiasi Bank di Singapura mengeluarkan peringatan tentang spyware yang dapat mengekspos data dari ponsel Android, termasuk PIN sekali pakai yang biasa dikirim melalui SMS.

Industri pinjaman pada konsumen makin digemari

Produk OneConnect lainnya yang juga digemari oleh para pelanggan potensial di Asia Tenggara adalah solusi pinjaman digital untuk konsumen. Negara-negara di wilayah ini punya “populasi yang sangat besar, tapi banyak bank tidak bisa menyalurkan pinjaman di sejumlah daerah pedesaan,” ungkap Tan.

Di sinilah solusi pinjaman digital mereka bernama Gamma Digital Loan masuk. Produk ini mengelola seluruh proses kredit, mulai dari manajemen saluran, anti penipuan, aplikasi pinjaman, dan persetujuan.

Bank dapat menggunakan teknologi biometrik OneConnect untuk melakukan autentikasi dan menyetujui pinjaman pembayaran per angsuran, angsuran kartu kredit, dan pinjaman bisnis. Semua proses ini dapat digunakan secara online.

Namun, Tan mencatat bahwa Gamma paling cocok untuk lembaga keuangan berukuran besar.

OneConnect juga menawarkan solusi blockchain, yang diluncurkan pada acara Hong Kong Fintech Week 2018. Peluncuran ini berlangsung setelah Ping An memperkenalkan Trade Finance Platform (TFP) juga di kota yang sama.

Dikenal dengan nama eTradeConnect, merupakan TFP yang menggunakan teknologi blockchain dan akan menghubungkan dua belas bank serta klien terpilih untuk berbagai data perdagangan menggunakan teknologi blockchain.

Blockchain untuk perusahaan besar

“Kami menerima banyak pertanyaan tentang blockchain,” kata Tan. “Pada saat yang sama, saya pikir tren blockchain agak dilebih-lebihkan, sehingga kami hanya akan menjual blockchain ketika benar-benar bernilai.”

Tan menambahkan untuk saat ini, blockchain menawarkan nilai untuk kegiatan perdagangan di bank sentral dan sistem tingkat nasional, tapi tidak begitu tepat untuk lembaga keuangan kecil dan menengah serta layanan yang fokus pada konsumen.

OneConnect berhati-hati agar upaya ekspansinya di Asia Tenggara tidak terlalu cepat. Tan yang telah menghabiskan banyak waktu di pasar perbatasan Myanmar dan Laos, menyadari bahwa keberagaman Asia Tenggara menjadikannya pasar yang menantang untuk ditaklukkan.

Inilah penyebab OneConnect berusaha untuk melakukan lokalisasi produk Ping An yang sudah ada, yang melibatkan pengubahan algoritme untuk bekerja dengan bahasa tertentu seperti bahasa Indonesia, hingga beradaptasi dengan pengenalan aksen bicara pada dialek lokal. “Tentu saja, kami harus melakukan ini lagi untuk Thailand, Vietnam, dan sebagainya.” jelas Tan.

Selain menghadirkan badan hukun di Indonesia, OneConnect juga sedang mempertimbangkan Thailand setelah menerima beberapa permintaan untuk masuk ke pasar ini. “Jika kita mendapatkan persetujuan, kita mungkin akan mengatur banyak hal di sana,” ujar Tan.

Ia percaya bahwa pasar Asia Tenggara telah memiliki preferensi risiko yang makin tinggi. Hal ini didorong oleh para konsumen yang ingin mencoba teknologi terbaru dan tercanggih.

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Fairuz Rana Ulfah sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Iqbal Kurniawan; Sumber gambar: The Straits Times).

SUMBER

Share Is Cool