Panen Kerap Gagal, Budi Daya Cabai Masih Tradisional

JS NEWS – Saat ini banyak petani yang belum memahami bagaimana budi daya cabai. Usahanya masih bersifat tradisional, sehingga kerap gagal panen seperti yang terjadi pada awal 2021 ini.

Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), Abdul Hamid mengatakan, banyak petani yang tanam cabai hanya mengikuti tetangga atau meneruskan dari orangtuanya,bahkan ada yang hanya dari media sosial.

Dikatakannya, petani harus banyak mengetahui bagaimana,  mengenali jenis dan kesuburan tanah, termasuk pH tanah; cara pemberian kapur untuk membantu kesuburan tanah; cara memelihara tanaman hingga proses panen. Dengan demikian, petani mengetahui dari mulai pengolahan tanah, kemudian tanam hingga panen, bahkan hingga pemasaran.

Baca Juga : Memutar Bisnis Koperasi Dengan Aset Digital

“Kalau petani tanam musim kemarau dan panen musim hujan, memang harga tinggi. Tapi kendalanya serangan hama dan penyakit, tidak bisa diatasi,” ujar dia.

Menurutnya, ada bebarapa trik untuk mengurangi serangan hama penyakit tersebut. Misalnya, penggunaan varietas unggul yang adaptif, cara persemaian yang baik, karena penularan virus kuning umumnya terjadi saat persemaian. Kepadatan populasi hanya boleh hingga 3.000 pohon per hektar.

“Pengelolaan hama dan penyakit bukan saat ada hama, tapi saat awal pengelolaan lahan. Misalnya, pengapuran jangan seminggu dan dua  minggu, tapi sudah dilakukan sebulan sebelum tanam,” ungkap Kukuh.

Untuk pengendalian hama, lanjut Bagus, petani bisa membudidayakan tanaman jagung di sekitar tanaman cabai.  Menurut dia tanaman jagung bisa mengundang predator atau parasitoid dari hama cabai.  Untuk itu penanaman jagung dilakukan sebulan sebelum tanam cabai.

SUMBER

Share Is Cool