Mengapa Raksasa Teknologi Cina Malah Fokus Pada Solusi B2B di Asia Tenggara

JS NEWS – Para pemain kunci perusahaan teknologi Cina terus menjulang di atas lanskap internet negara tersebut. Perusahaan besar seperti Baidu, Alibaba, dan Tencent mengantongi valuasi pasar gabungan sebesar US$1 triliun (sekitar Rp 13,9 kuadriliun). Dengan pangsa pasar paling menonjol berasal dari industri internet di Cina.

Namun akar dari perusahaan raksasa teknologi Cina itu telah menjalar lebih jauh melampaui batas negara. Asia Tenggara merupakan tanah subur bagi pertumbuhan perusahaan Cina. Bisa dilihat dengan banyaknya perusahaan yang mereka kuasai, miliki sebagian atau jadi objek investasi.

Alibaba misalnya menikmati saham mayoritas di Lazada, perusahaan e-commerce terkenal di Asia Tenggara, serta saham minoritas di unicorn Indonesia, Tokopedia. ,

Unicorn Indonesia lainnya GOJEK baru-baru ini menutup seri pendanaan yang dimpimpin oleh Tencent sebesar US$1,2 miliar (sekitar Rp16,7 triliun). Baidu juga memperkuat kehadirannya di Asia Tenggara dengan bergabung pada pendanaan ventura Asia Mobil Industry sebesar US$200 juta (sekitar Rp2,7 triliun). Langkah ini memperjelas ambisi perusahaan teknologi Cina untuk menjadi pemimpin regional dalam kendaraan otonom.

Sekarang perusahaan-perusahaan raksasa itu sedang bergerak ke tahap selanjutnya.

Dalam laporan Boston Consulting Group yang kami susun bersama dengan Ali Research dan Baidu Development Research Center, kami mengeksplorasi realitas yang sedang muncul dari terjunnya Cina ke industri internet.

Membawa solusi dan siap mengubah industri global, apa arti fase ini dalam praktiknya? Serta apa dampaknya kepada Asia Tenggara?

Industri internet yang berkembang

Revolusi Industri Keempat menghadirkan transformasi digital seismik ke industri global kita. Kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data dalam jumlah besar membuat proses lebih cepat, fleksibel, dan efisien. Yang pada akhirnya bisa mengurangi biaya sembari meningkatkan kualitas barang.

Pada 2016, World Economic Forum memperkirakan digitalisasi industri bisa menghasilkan dividen global sebesar US$100 triliun (sekitar Rp1,3 kuantiliun) pada tahun 2026.

Sementara Cina berdiri sebagai perintis di bidang internet konsumen yang menginspirasi. Namun begitu, mereka tetap tertinggal di belakang dalam beberapa bidang yang mempunyai peluang besar. Penelitian kami mengidentifikasi empat bidang di mana perintis digital Cina gagal mengikutinya.

  • Konektivitas pintar: Industri internet dibangun di atas dunia berwawasan cerdas. Namun, investasi Cina pada sektor sensor industri hanya US$3 miliar (sekitar Rp41,9 triliun) pada 2016. Dibandingkan dengan investasi Amerika Serikat sebesar US$4 miliar (sekitar Rp55,9 triliun). Hanya 5 persen dari sensor industri di Cina yang bermain pada kategori sensor pintar ini, dibandingkan dengan 12 persen di Amerika Serikat.
  • Integrasi data: Tidak cukup hanya mengumpulkan data; kamu membutuhkan platform untuk menghubungkannya. Hanya sepertiga dari perusahaan Cina yang menggunakan cloud pribadi atau publik, sementara di Amerika sudah mencapai 80 persen.
  • Pengambilan keputusan cerdas: Data yang cerdas berarti keputusan yang cerdas pula, tapi hanya 10 persen paten Industri 4.0 di Cina yang mencakup analitik data cerdas, berbanding jauh dengan 34 persen di Amerika Serikat.
  • Kolaborasi manusia-robot: Pada 2017, Cina menyumbang 36 persen dari penjualan robot di industri global, naik 21 persen dari 2013, tapi masih berada di belakang penetrasi yang dilakukan Amerika Serikat dan Jerman.

Keterlambatan Cina dalam mengadopsi teknologi industri 4.0 merupakan hasil dari sektor manufaktur yang muda dan sudah matang. Secara keseluruhan, perusahaan manufaktur dengan teknologi canggih hanya terdiri dari 21 persen, berbading dengan 37 persen di Amerika Serikat. Memprioritaskan pengembangan produk dan layanan konsumen juga berkontribusi terhadap lambatnya digitalisasi pada proses hulu.

Dengan pertumbuhan pengguna internet sebesar 5,6 persen dari tahun-ke-tahun, yang juga berada pada level terendah Cina selama sepuluh tahun pada 2017 lalu, batasan baru bagi industri internet ini menjadi semakin mendesak daripada sebelumnya.

Kehadiran perdana dan potensi Cina di Asia Tenggara

Lanskap bisnis Cina menyediakan ruang uji coba menarik untuk berbagai solusi industri internet. Tidak seperti perekonomian Jerman, Inggris, atau Amerika Serikat, Cina memiliki pangsa usaha kecil dan menengah yang relatif besar dan membutuhkan pendekatan fleksibel untuk mengadopsi industri internet.

Situasi ini menciptakan sinergi menarik dengan Asia Tenggara, di mana Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) memperkirakan terdapat 95 persen Unit Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dari keseluruhan perusahaan. Pantulan lanskap tersebut berarti industri internet yang muncul di Cina bisa menjadi cerminan solusi di Asia tenggara.

  • Bahan makanan: Perusahaan raksasa internet Cina telah mempercepat digitalisasi sektor bahan makanan dengan pasokan digital, logistik, dan pembayaran. Kondisi ini tidak hanya menjadi rujukan kerangka kerja untuk Asia Tenggara, tapi juga menawarkan rute menarik untuk penetrasi regional (mis. Investasi Alibaba di startup bahan makanan Singapura RedMart melalui subsidi yang diberikan Lazada).
  • Transportasi otonom: Masa depan transportasi terlihat semakin otomatis. Apollo, platform terbuka Baidu untuk teknologi self-driving, telah menarik lebih dari 130 mitra dan 12.000 developer hingga saat ini. Dana ventura Baidu yang berbasis di Singapura menyediakan jalan menarik untuk transfer dan adopsi teknologi di smart city yang matang seperti Singapura.
  • Logistik pintar: Kendaraan otonom akan memainkan peran penting di masa depan. Investasi Tencent dalam layanan pemanggilan truk seperti Uber Full Truck Alliance merencanakan rute untuk menyuplai logistik yang lebih cerdas. Investasi di GOJEK juga menunjukkan hubungan Tencent dengan sejumlah startup serupa di Indonesia akan mengarah kesana.
  • E-commerce: Masa depan yang cerah dibangun berlandaskan pada sejumlah keputusan berbasis informasi. Tmall Innovation Center Alibaba menawarkan pengetahuan anonim yang sudah di agregasi tentang 600 juta pelanggan untuk merek yang bermitra dengan mereka. Data ini menginformasikan penargetan produk dan menyediakan potensi signifikan bagi para pemain regional seperti Lazada dan Tokopedia.
  • Kecerdasan buatan (AI): Platform AI terbuka dari Baidu menyediakan layanan pemrosesan suara, gambar, dan bahasa. Ini sudah digunakan antara lain di bidang pertanian, manufaktur, dan perawatan kesehatan. Pendekatan ini menyediakan sumber menarik dari perusahaan dengan jejak inovasi yang jelas di Asia Tenggara.

Pergeseran ke platform bisnis

Apa yang diungkapkan pada sejumlah contoh kasus ini merupakan pendekatan ganda yang diambil perusahaan internet Cina guna menggali pasar vertikal atau meluncurkan solusi menggunakan platform bisnis-ke-bisnis (B2B).

Beberapa perusahaan Cina yang sudah melakukan penawaran umum perdana kurung waktu 18 bulan hingga akhir 2018 dan memperoleh penilaian pra-IPO lebih dari US$1 miliar (sekitar Rp13,9 triliun), 70 persen diantaranya mendorong industri vertikal atau memposisikan diri sebagai platform.

Mengapa platform jadi peluang yang besar? Seperti bisnis kebanyakan, ini tentang membangun koneksi yang tepat. Platform memfasilitasi pertukaran antara beragam pemangku kepentingan dalam suatu ekosistem bisnis.

Ini adalah tool transformatif berharga dalam ekonomi besar UKM Cina, membuka peluang digital yang menghubungkan dan memungkinkan menjalin kemitraan.

Sementara perusahaan-perusahaan internet di Eropa dan Amerika Serikat sedang fokus pasa platform yang menawarkan data dan peluang teknologi, para pemain besar Cina lebih fokus dalam menyediakan solusi bisnis. Ini memungkinkan transisi cepat serta vital dan memberikan peluang sangat penting bagi lanskap manufaktur negara yang esensial namun terfragmentasi tersebut.

read also

Menentukan posisi yang tepat di tengah kemunculan dunia industri 4.0

Dorongan Cina terhadap industri internet akan berdampak ke luar perusahaan internet negara itu sendiri. Bisa dirasakan pula industri tradisional dan perusahaan multinasional yang mempunyai ambisi terkait ekonomi Cina.

Agar bisa bersaing dalam lanskap industri yang sedang berkembang ini, perusahaan internet harus meningkatkan pemahaman B2B merekamasing-masing. Membangun strategi yang memanfaatkan keahlian teknologi yang ada untuk memberdayakan mitra secara digital.

Perusahaan internet yang berencana menargetkan pasar vertikal tentu harus melakukan analisis komprehensif terhadap ekosistem bisnis, mengembangkan kesadaran tentang bagaimana pemain industri yang ada dapat menjadi mitra bernilai tinggi.

Pemain industri tradisional juga harus siap menerima disrupsi. Pilihannya adalah meningkatkan keterampilan dan pemahaman untuk menghadapi transformasi digital, atau berkolaborasi dengan vendor utama yang sudah melakukan transformasi.

Mengevaluasi kemitraan akan menjadi bagian penting evolusi ini. Merangkul budaya digital juga sama pentingnya agar mencapai kesuksesan. ,

Perusahaan multinasional yang mempunyai ambisi terhadap Cina harus siap menyesuaikan strategi mereka. Mengembangkan peta pengembangan “Cina untuk Cina” yang bisa mengatasi bentuk persaingan baru. Menjalin hubungan dengan perusahaan raksasa internet Cina juga kemungkinan akan memainkan peranan penting.

Terlepas dari itu, fokus pada strategi lokal dalam merespons dengan cepat lanskap yang sedang berkembang pesat ini jadi kuncinya.

Dengan mengakarnya perusahaan-perusahaan internet Cina ke seluruh Asia Tenggara, bab selanjutnya tidak diragukan lagi juga akan mengungkapkan cerita lokal tentang berbagai perkembangan. Perusahaan internet, industri tradisional, dan perusahaan multinasional yang beroperasi di Asia Tenggara sebaiknya bisa memahami perjalanan yang diceritakan di atas.

SUMBER

Share Is Cool