Mencari Pusat Startup Selain Silicon Valley, Beijing, dan Bengaluru

Silicon Valley menyerap 17,9 persen dari total nilai investasi startup di seluruh dunia.

JS NEWS- Dunia teknologi mengenal istilah 3B untuk tiga kawasan strategis di dunia. “B pertama ialah Bay Area atau Silicon Valley (Amerika). B kedua adalah Beijing (Cina). B ketiga adalah Bengaluru (India),” kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara pada peresmian Apple Developer Academy awal Mei lalu di BSD, Tangerang Selatan. “B selanjutnya mudah-mudahan BSD,” kata Rudiantara.

Harapan Rudiantara soal 3B kawasan pengembangan teknologi bisa menular ke Indonesia bukan perkara mudah. Pada laporan berjudul “Global Startup Ecosystem Report 2018” yang dirilis Startup Genome, tiga tempat tersebut memiliki keunggulan di dunia startup yang sukar dikalahkan lokasi-lokasi lain di seluruh dunia. Bay Area (Silicon Valley), Beijing, dan Bengaluru memiliki keunggulan khusus dan sukses menarik dana yang tidak sedikit dari pemodal di dunia. Silicon Valley, tempat lahirnya Google hingga Facebook, merupakan lokasi startup-startup dengan gelontoran investasi keseluruhan $25 miliar pada 2017 lalu. Dalam laporan yang sama, investasi startup di seluruh dunia bernilai $140 miliar. Ini artinya, Silicon Valley menyerap 17,9 persen dari total nilai investasi.

Baca Juga : Dampak Program Inkubator bagi Perkembangan Startup Tahap Awal di Indonesia

Dengan nilai yang begitu besar, Silicon Valley didaulat sebagai tempat “lima kali lebih besar dibandingkan New York yang disebut sebagai kota paling atraktif soal ekosistem startup nomor dua di dunia.” Ada tiga jenis startup yang tengah berkembang dan jadi kekuatan utama Silicon Valley. Pertama ialah Artificial Intelligence (AI), Big Data, dan Analisis. Kedua ialah Fintech, dan ketiga adalah Biotech.

Laporan dari Startup Genome menyebutkan pada 2017, ada 20 persen dari total nilai investasi yang dikucurkan Venture Capital ke Silicon Valley, mengalir ke startup berjenis AI, Big Data & Analisis. Sementara itu, sebanyak 13 persen mengucur pada startup berjenis Fintech, dan startup berjenis Biotech di Silicon Valley memperoleh pendanaan sebesar $10 miliar, yang setara dengan 25 persen investasi pada startup Biotech di seluruh dunia. Menariknya, khusus untuk startup yang fokus pada pengembangan AI, Big Data, dan Analisis, tak bertujuan untuk menjadi startup mandiri. Buktinya, dalam rentang lima tahun terakhir, 90 persen startup di Silicon Valley yang berhubungan dengan jenis ini, diakuisisi oleh perusahaan teknologi besar. Setelah Silicon Valley, ada B berikutnya yaitu Beijing. Kota yang memiliki 16 distrik dan 289 desa tersebut merupakan pusat dari pasar 1,3 miliar orang yang tinggal di Cina. Startup dengan ragam tema memiliki potensi yang besar di Cina. Para pemodal cukup serius menggelontorkan uang pada startup-startup di Cina. Tahun lalu, total investasi Venture Capital di seluruh Cina mencapai angka $40 miliar, dengan proporsi terbesar ada di Beijing. Di kota ini ada 40 startup bergelar unicorn atau perusahaan startup dengan nilai di atas $1 miliar. Namun, banyaknya unicorn lahir di Beijing tak hanya dipicu oleh masifnya pendanaan. Travis Kalanick, mantan Chief Executive Officer (CEO) Uber di sebuah kesempatannya pada CNBC 2016 lalu mengatakan “budaya Cina merupakan budaya wirausaha yang menakjubkan”. Kalanick mengatakan “tak akan heran bila dalam 10 tahun mendatang banyak inovasi lahir dari Beijing.” Di Beijing punya tiga jenis startup yang tengah berkembang dan jadi kekuatan utama. Pertama ialah AI, Big Data & Analisis, kedua Edtech, dan ketiga jenis startup Blockchain.

Baca Juga : Panduan bagi Founder Startup dalam Menghadapi Masa-Masa Sulit

Perkembangan AI, Big Data & Analisis, terjadi atas campur tangan pemerintah. Negeri Tirai Bambu itu tengah mencanangkan diri sebagai “world leader” di bidang ini. Salah satu caranya, mengucurkan investasi dengan total nilai $2,1 miliar, yang akan diperebutkan oleh 400 startup AI yang berdiri di Beijing. Selain Silicon Valley dan Beijing, istilah B berikutnya adalah Bengaluru, salah satu kota yang ada di India. Vinod Shankar, Chief Operating Officer Global Incubation Service, firma inkubasi startup, mengatakan Bengaluru merupakan kota yang telah bersalin rupa “menjadi kota akademik yang salah satunya dibuktikan dengan banyaknya institusi teknikal dan laboratorium R&D.”

Kota ini adalah “gudang talenta IT’ dengan harga yang murah. Laporan dari Startup Genome menyebut bahwa upah talen IT Bangaluru lebih murah hingga 13 kali dibandingkan Silicon Valley dan 4 kali lebih murah dibandingkan rata-rata gaji pekerja IT di Asia Pasifik. Ini mengakibatkan banyak kota tersebut menjadi sangat kompetitif di dunia startup. Go-Jek, unicorn pertama Indonesia, merupakan startup yang memiliki kantor di sana. 

Kawasan Silicon Valley, Beijing, dan Bengaluru punya jenis startup unggulan. Itu ialah IoT (Internet of Things), Fintech, dan EdTech. Khususnya IoT, Bengaluru merupakan tempat 1.000 startup, dengan 540 di antaranya telah teregistrasi, yang berhubungan dengan IoT bekerja, yang merupakan setengah dari keseluruhan startup IoT di India.

Kawasan Lain di Luar 3B 

Silicon Valley, Beijing, dan Bengaluru merupakan tiga pilar startup dunia. Adakah potensi lain, misalnya di Indonesia? BSD di Tangerang Selatan, tempat keberadaan Apple Developer Academy memang potensial menjadi sejajar dari ketiga kota itu. Namun, yang lebih potensial justru Jakarta. Dalam laporan berjudul “Connecting Commerce: Business Confidence in the Digital Environment” yang diterbitkan oleh The Economist, Jakarta didaulat sebagai kota yang duduk di peringkat ke-8 dari 45 sebagai kota yang cocok untuk perusahaan digital berlabuh. Jakarta, yang memperoleh skor 7,25/10 unggul dibandingkan London yang memiliki skor 7,24/10. Hasil ini merupakan survei atas 2.620 eksekutif di 45 kota di seluruh dunia. Dalam laporan terpisah, berjudul “Connecting Commerce: Jakarta,” duduknya Jakarta di posisi ke-8 terjadi karena Jakarta dinilai 41 persen responden memiliki keterampilan keamanan dunia maya.

Sebanyak 25 persen responden menyatakan bahwa Jakarta merupakan tempat lahirnya perubahan manejemen ke arah digital yang lebih baik. Sayangnya, masalah sumber daya manusia jadi catatan. Di laporan tersebut disebutkan bahwa 36 persen tantangan terberat Jakarta merupakan masalah SDM. Bahkan Nicko Widjaya, Chief Executive Officer MDI Venture, dalam tulisannya di Forbes, secara tersirat mengungkapkan bahwa tantangan bukan hanya SDM di bidang IT. Para pendiri startup pun kadang kebingungan mengembangkan perusahaan rintisan yang dibangunnya di Indonesia. Nicko, dalam tulisannya, menyebut bahwa “para pendiri pemula tidak siap atas kenyataan bahwa mereka akan membutuhkan lebih banyak uang untuk benar-benar mencapai target pertumbuhan yang diminta oleh investor.” Para pendiri startup, kata Nicko, kesulitan membedakan antara menjadi startup yang “berskala ventura” dan menjadi UKM. Sampai saat ini, di Indonesia terutama di Jakarta, telah menjadi rumah bagi empat startup dengan status unicorn, antara lain: Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan India, khususnya Bengaluru, yang telah punya 10 startup unicorn dan Beijing dengan 40 startup unicorn. Tentu ini jadi tantangan yang perlu dijawab para startup dan pemerintah.

Sumber

Share Is Cool