Koperasi Masih Jadi Andalan UKM, tapi Perlu Inovasi

JS NEWS- Riset  Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI) terhadap 1.050 responden, mengungkapkan bahwa 77,6% responden menyatakan koperasi memerlukan inovasi agar mampu beradaptasi pada kondisi saat ini.

Riset ICCI itu mengambil responden yang terdiri dari  81,71% pegawai dan 18,29% manajer koperasi. Riset yang dilakukan pada 2019 itu  dilakukan dengan dua metode: survai online secara nasional dan wawancara mendalam di lima provinsi (Jakarta, Jawa Tengah, Bali, Kalimantan Barat dan Bangka Belitong)

Dalam sebuah Webminar bertajuk “Masihkah Koperasi Menjadi Andalan?”, di Jakarta, Kamis 13 Agustus 2020 Executive Committee ICCI Firdaus Putra menyampaikan inovasi menjadi salah satu hal penting yang harus dilakukan oleh koperasi. Inovasi yang paling penting adalah digitalisasi.

Meskipun demikian animo masyarakat untuk menjadi anggota koperasi tetap tinggi mengingat daya jelajah koperasi yang dapat menjangkau hingga masyarakat kelas menengah ke bawah.

“Sektor UMKM termasuk yang paling banyak mengakses layanan koperasi karena dapat mendukung usaha rintisan tersebut,” ujar Firdaus Putra.

Hanya saja koperasi juga dihadapkan pada tantangan untuk memodernisasikan layanan yang menjangkau kebutuhan hulu dan hilir masyarakat sehingga dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat lebih signifikan.

“Mata rantai bisnis koperasi harus berkesinambungan dari soal saving, loan, dan menyediakan marketplace yang dapat digunakan untuk anggota dalam memasarkan produk dan jasa layanan anggota,” terang dia.

Sementara itu Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki menyampaikan, saat ini koperasi belum menjadi pilihan rasional dari masyarakat untuk berusaha.

Baca Juga

Hal ini terlihat dari partisipasi masyarakat untuk berkoperasi masih sebesar sangat kecil yakni mencapai 8,41 persen, sedangkan negara lain sudah mencapai 16,31 persen.

Angka ini masih sangat rendah dibandingkan persentase negara lain dalam skala global yang sebesar 16,31 persen.

Proporsi pelaku UMKM Indonesia  sektor pangan sebesar 51,2 persen, namun kelembagaan ekonomi petani yang berbentuk koperasi hanya sebanyak 13.821 unit atau 11,23 persen dari total koperasi aktif.

“Koperasi sangat lambat seperti andong dan korporasi jalannya seperti kereta cepat. Jadi untuk mendorong koperasi menjadi besar, koperasi harus bergerak dalam satu playing field dengan korporasi,” ucapnya.

Agar masyarakat mau berinvestasi di koperasimenurut Teten, perlu adanya lembaga penjaminan simpanan khusus koperasi seperti LPS yang ada di perbankan.

“Hal ini agar para anggota  koperasi yang memiliki dana akan merasa aman bila mereka menempatkan dananya di koperasi,” pungkasnya.

SUMBER

Share Is Cool