Koperasi Digital, Katalisator Sakti Pemerataan Ekonomi Zaman Now

JS NEWS – Terlahir sebagai generasi milenial dari keluarga petani membuat saya menyadari arti penting keberadaan koperasi. Tanpa koperasi, nalar ekonomi (reason of economy) yang ‘dikendalikan motif dagang’ para Homo Oeconomicus (makhluk ekonomi) akan menggurita, menciptakan ketimpangan sosial, dan menghambat kebijakan pemerataan ekonomi. Reposisi koperasi konvensional menuju koperasi digital merupakan langkah penting yang harus ditempuh bangsa Indonesia. Koperasi digital akan menjadi katalisator sakti untuk mewujudkan pemerataan ekonomi di zaman now.

Bahaya Homo Oeconomicus

Berdasarkan pengalaman pribadi saya, nalar ekonomi yang dikendalikan ‘motif dagang’ telah muncul sejak awal kelahiran generasi milenial atau tahun 1980-an. Di kampung halaman saya, Kabupaten Pasaman Barat, upaya tersebut dilakukan homo oeconomicus berwujud spekulan dengan ‘modus kelangkaan barang’ .

Sebagai gambaran, ketika dalam satu musim tanam petani banyak menanam jagung dan jarang menanam cabai. Implikasinya, hasil panen jagung akan melimpah dan harga cabai akan terbatas. Para spekulan dengan sigap menjatuhkan harga panen jagung dan menaikkan harga cabai. Di musim tanam berikutnya, petani akan terstimulus untuk menanam cabai dengan harapan harga akan mahal dan mengabaikan tanaman jagung.

Kenyataannya, ketika panen tiba, harga cabai akan jatuh dan harga jagung akan naik. Akibatnya, sebagian besar petani nyaris selalu ‘jual rugi’. Keberadaan koperasi di kampung halaman saya—khususnya Koperasi Unit Desa (KUD)—sulit menghambat upaya-upaya spekulan untuk memiskinkan petani tersebut.

BACA JUGA : Siapa Bilang Kuno? Nih Manfaat Menjadi Anggota Koperasi

Bila saya perhatikan, kendali motif dagang yang menguasai nalar ekonomi cenderung menyeluruh di Indonesia. Bahkan, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pun digempur Homo Oeconomicus. Untungnya, di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat kesadaran sebagian petani dan kaum intelektual untuk mengatasi gempuran tersebut, seperti pendirian Asosiasi Pasar Tani (ASPARTAN).

Kiprah ASPARTAN mengingatkan saya pada cita-cita Bung Hatta dalam koperasi. Bahwa perekonomian semestinya disusun atas asas kekeluargaan. Tujuan ekonomi adalah untuk kesejahteraan bersama.

Inisiatif masyarakat untuk mendukung pemerataan ekonomi yang dikelola ASPARTAN juga terdapat di daerah-daerah lain. Sayangnya, jumlah komunitas (asosiasi) ini relatif terbatas dan belum terintegrasi dalam skala nasional. Bila jumlahnya dikembangkan dan terjalin dalam wadah koperasi digital, inisiatif ini akan memiliki daya dobrak luar biasa untuk mendukung realisasi pemerataan ekonomi.

Membangun Koperasi Digital

Nalar ekonomi yang dikendalikan ‘motif dagang’ hanyalah salah satu hambatan pemerataan ekonomi. Koperasi digital merupakan solusi yang bersifat holistik untuk mengatasi hambatan pemerataan ekonomi. Melalui koperasi digital, seluruh rakyat Indonesia dapat berkerja sama dan berkontribusi untuk mewujudkan pemerataan ekonomi.

Koperasi digital bisa disebut koperasi yang bisa dikendalikan dengan gadget atau alat komunikasi yang terkoneksi internet. Inilah koperasi zaman now! Sistem koperasi yang rumit (birokratis) bisa bertransformasi menjadi sangat sederhana dan bisa melintasi batas-batas geografis. Berbekal gadget yang terkoneksi internet, kita sudah bisa menjadi anggota atau memanfaatkan layanan koperasi.

Pada praktiknya, koperasi digital bisa mengadopsi konsep digital toko online seperti Shophee, Bukalapak, atau Tokopedia. Memiliki platform (website), aplikasi, dan operator online. Tetapi, koperasi digital harus diselaraskan dengan asas atau prinsip-prinsip koperasi yang diwariskan Bung Hatta khususnya kekeluargaan. Untuk mengoptimalkan pembangunan koperasi di sektor digital, kita perlu mewujudkan langkah-langkah penting berikut ini:

Pertama, optimalisasi reformasi total koperasi

Koperasi konvensional adalah pondasi utama koperasi digital. Maka, untuk mewujudkan koperasi digital, gagasan Presiden Joko Widodo untuk menyelenggarakan reformasi koperasi harus diselenggarakan. Agar pondasi koperasi yang dibangun Bung Hatta berdaptasi dengan perkembangan zaman. Dengan jalan ini, mutu pelayanan koperasi akan meningkat dan semakin memperbesar peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat zaman now.

Kedua, pemerataan infrastruktur teknologi digital

Tanpa infrastruktur teknologi digital yang akomodatif, koperasi digital akan sulit untuk berkembang dalam membangun pemerataan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Pemerintah beserta institusi yang menjadi motor penggerak pembangunan sektor digital perlu meratakan infrastruktur di 17.000 lebih pulau ‘besar dan kecil’ di Indonesia. Pemerataan tidak hanya kuantitas, tetapi juga meliputi kualitas seperti peningkatan kapasitas sinyal internet. Agar komunikasi di arena koperasi digital efektif dan efisien; serta mendukung terciptanya jaringan sistem koperasi digital skala nasional.

Ketiga, membangun sistem koperasi digital terintegrasi skala nasional

Melalui sebuah sistem yang terintegrasi skala nasional, kinerja seluruh koperasi digital di seluruh Indonesia bisa dioptimalkan dan bergerak serentak untuk tujuan bersama dalam pemerataan ekonomi.

Keempat, pemberdayaan SDM Koperasi

Sebagai human capital penting dalam reposisi koperasi menuju tatanan digital, SDM koperasi perlu memperoleh pemberdayaan. Pemberdayaan dapat berupa pelatihan keahlian, bantuan dana untuk melanjutkan pendidikan formal dalam meningkatkan keahlian digital, dan apresiasi untuk SDM berprestasi dalam pengembangan koperasi digital.

Kelima, edukasi sadar koperasi digital

Masyarakat perlu mendapatkan edukasi yang bisa memberi stimulus bagi masyarakat untuk bergabung menjadi anggota koperasi digital. Edukasi bisa berbetuk workshop, distribusi informasi melalui media massa/media sosial, dan penyuluhan. Dengan jalan ini, masyarakat akan terpicu untuk menjadikan koperasi digital sebagai landasan dalam mewujudkan kesejahteraan dalam bingkai kekeluargaan

Keenam, generasi milenial sebagai agent of change pengembangan koperasi digital

Sebagai generasi yang mengalami peralihan dari Era Pra Digital dan Era Digital, generasi milenial memiliki kedekatan emosional dengan generasi Era Pra Digital. Karena itu, SDM koperasi dan generasi milenial bisa menjadi mitra untuk mewujudkan koperasi digital. Sebagai mitra SDM koperasi, generasi milenial bisa menjadi agent of change untuk menggerakkan masyarakat Era Pra Digital menjadi anggota dan berkarya di bawah payung koperasi digital.

Generasi Pra Digital cenderung kesulitan untuk beradaptasi dengan teknologi digital. Setiap saya mengunjungi bazar UMKM seperti Festival UMKM Sembada 2019 yang digelar pada 24-25 Otober 2019, saya selalu menemukan Generasi Pra Digital yang enggan menggunakan teknologi digital sebagaimana Bapak Anto. Bapak Anto enggan meggunakan teknologi digital dengan alasan sudah tua.

Baca Juga : Saatnya Koperasi Bertransformasi Menuju Era Digital

Saya pun menjelaskan bahwa teknologi digital sebenarnya tidak rumit dan hanya perlu pembiasaan. Setelah terbiasa, maka teknologi digital akan memberikan manfaat yang luar biasa membantu kita untuk memperoleh layanan dari seluruh aspek kehidupan, termasuk layanan di sektor ekonomi. Menguasai teknologi digital bisa belajar pada anak atau keluarga yang lebih muda. Berkat kedekatan emosional sebagai generasi milenial dan Generasi Pra Digital, penjelasan saya tidak sulit untuk diterima Bapak Anto dan tertarik untuk go digital.

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa koperasi digital merupakan katalisator sakti realisasi kebijakan pemerataan ekonomi. Melalui koperasi digital, masyarakat bisa bersikap pro-aktif dalam melakukan aksi nyata dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan kemakmuran kolektif dalam bingkai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

SUMBER : KOMPASIANA

Share Is Cool