Koperasi dan Agro industri di China

JS NEWS – Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan ungkapan ‘Tuntutlah Ilmu Hingga ke Negeri China’. Artinya, cari dan tuntut ilmu sejauh apapun ilmu itu berada. Negara China jadi patokan, karena jauh sebelum ilmu pengetahuan berkembang, China sudah mencapai peradaban yang amat tinggi bahkan dalam dunia perdagangan China dikenal sangat pandai dibandingkan dengan penduduk negara lain.

Belajar dari sejarah itu berikut dialog pengalaman Group perusahaan teman saya di Hong Kong yang bermitra dengan Jepang membangun downstream industri pisang di China. Seperti diketahui Izin Industri sebagai PMA didapat dari otoritas China.

Pemerintah China juga mengizinkan estate food untuk tanaman pisang. Beberapa bulan setelah persiapan pembebasan lahan, datanglah dua orang mengundangnya makan malam. Satu dari pejabat pemerintah dan satu lagi rakyat biasa. Waktu pertemuan itu pajabat pemerintah mengenalkan orang yang bersamanya. Bahwa orang itu adalah aktivis rakyat.

“ Apakah mungkin kami bisa membantu anda ? tanya aktivis itu kepada teman saya itu setelah diperkenalkan oleh pejabat pemerintah. Awalnya teman saya kira bahwa aktivis itu mau meminta rente harga dari sewa tanah.

“ Kami sudah dapat izin dari pemerintah untuk membuka lahan 2000 hektar. Kami rasa tidak butuh anda lagi. “ jawab teman saya.

“Maksud saya, apakah anda ingin mengurangi ongkos buruh dan meningkatkan produksi tanpa keluar modal sendiri.” kata aktivis itu lagi.

“ Apa maksud anda? tanya teman saya sambil terkejut.

“ Mengapa anda tidak fokus pada industri pengolahan dan selebihnya urusan kami ?” kata aktivis itu.

“ Maksud anda ?“ tanya teman saya dengan kening berkerut. Karena mungkin memikirkan biaya yang cukup besar ditanggung olehnya.

“ Maksud saya, begini. Tanah itu tetap menjadi konsesi anda dari pemerintah. Kami akan mengolahnya jadi tanaman pisang dan hasil panen kami serahkan kepada anda untuk diolah jadi downstream pisang.” kata aktivis itu lagi.

“ Harga ?“ Tentu berdasarkan harga pasar. Kita terbuka saja. “
“ Biaya ?“ Kami semua yang tanggung. “
“ Resiko tanam ? “ Resiko ada pada kami. “ kata nya dengan tersenyum.

“ Jadi apa yang anda butuhkan dari saya ? tanya teman saya lagi.

“ Kontrak jangka panjang.” kata aktivis itu dengan tersenyum. Sambil melirik kepada pejabat pemerintah yang nampak mengangguk sebagai tanda dia menjamin komitmen aktivis.

Singkat cerita, tiga bulan kemudian, traktor berdatangan ke lokasi lahan untuk mematangkan tanah agar layak ditanam pisang secara estate food. Buruh berdatangan dalam jumlah besar yang sibuk bekerja menanam pisang. Pada waktu bersamaan instalasi mesin pabrik dipasang. Setelah pabrik selesai dibangun, panen berdatangan dari ladang pisang. Setiap ton pisang yang masuk ke pabrik di hargai sesuai harga pasar.

Baca Juga : The Power of Cooperation ( Koperasi )

Apa lesson learnt dari pengalaman ini?

Perhatikan, pabrik mendapat supply chain bahan baku dari lahan konsesinya sendiri.

Kedua, pabrik tidak menanggung biaya tetap untuk upah buruh. Semua biaya produksi menjadi biaya variable sehingga membuat pabrik aman dari kompetisi.

Ketiga, pabrik aman dari biaya modal pembukaan lahan. Sehingga capital expenditure nya hemat.

Siapa supply chain itu ? mereka adalah KOPERASI.

Lahan 2000 hektar itu dibagi 500 orang pekerja yang tergabung dalam Koperasi.

Lantas bagaimana mereka dapatkan modal ?

Mereka mendatangi Bank dimana Pabrik itu melakukan negosiasi LC. Mereka ajukan kredit kepada bank. Tetapi kredit itu tidak dalam bentuk Investasi.

Kredit bank itu dengan skema menggadaikan “warkat barang penyerahan kemudian” dan itu adalah performa invoice.

Bagaimana resikonya ? Warkat ini dijamin oleh Minsheng bank. Artinya kalau gagal delivery maka Minsheng bank akan bail out. Mengapa Minsheng mau ? karena sesuai kontrak jual beli antara Perusahaan dan Koperasi, pembayaran penjualan hasil panen pisang itu langsung ditransfer ke Minsheng bank.

Bagaimana kalau panen gagal ? karena bibit dari pemerintah maka apabila panen gagal karena bibit yang buruk maka pemerintah akan bail out. Jadi koperasi hanya fokus kepada SOP bercocok tanam dan pasca panen.

Perhatikan, semua institusi terlibat secara sinergi. Skema tersebut bukan hanya pada tanaman pisang tetapi juga pada tanaman mangga, singkong, Jeruk, jagung, bunga matahari, Cabe, kedelai, bawang putih dll.

Semua hasil produksi koperasi diolah di industri yang menghasilkan barang jadi (sampai packaging). Industrinya sampai ke produk akhir bisa dikonsumsi. Mengapa orang mau buat industri pengolahan? karena adanya jaminan supply chain dari petani untuk menghasilkan bahan baku yang mandiri dan profesional melalui kelembagaan koperasi.

Industri pengolahan pertanian berkontribusi 60% atas GNP China. Daya tahan ekonomi berbasis agro ini berlaku sepanjang masa selagi orang tidak makan besi. Andaikan pasar ekspor komoditas sekunder jatuh , itu tidak akan membuat ekonomi china bangkrut. Karena lebih 50% ekonominya bergantung kepada Agro dan 80% rakyat China hidup dari sektor ini.

Apa kunci suksesnya sistem ini ? karena petani bersatu dalam koperasi dan fokus bagaimana menguasai pasar terlebih dahulu sebelum mereka melakukan proses produksi.

Demi mencapai pasar itu mereka bersinergi tanpa membebani industri sebagai pembeli utama dengan minta modal atau DP. Mereka berusaha menjadi mitra terhormat atas dasar bisnis dengan prinsip win to win.

Ketika pasar dikuasai maka proses produksi hanya masalah management dan risk management akan mudah dipenuhi sehingga memudahkan mendapatkan dukungan kredit dari financial institution.

China, petaninya hebat karena mereka tidak menempatkan diri sebagai tangan dibawah. PMA datang tidak untung sendiri tetapi mereka jadi agent mendistribusikan kemakmuran kepada rakyat dan itu karena kemauan rakyat sendiri yang lebih memilih bersinergi daripada mengutuki PMA.

“Petani itu kalau kita beri mereka kemudahan, mereka akan rakus. Kita beri aturan yang ketat mereka akan mengeluh. Cara terbaik agar potensi mereka bangkit sebagai asset nasional adalah beri mereka kebebasan berproduksi dan bantu mereka mendapatkan akses pasar, serta tekhnologi. Selanjutnya uang akan datang dengan sendirinya dan mereka pantas makmur secara terhormat.” demikian kata teman di China.

“Jadi skema ini sangat mungkin diterapkan di Indonesia, asal mau dan secara teknis operasional dipimpin oleh yang kompeten. Mulai dengan prioritas pada produk unggulan daerah,”

SUMBER

Share Is Cool