Kolaborasi Apik Petani, Koperasi dan UMKM Menyintas Pandemi di Banyumas dan Cilacap

JS NEWS – Kerut kulit tak bisa menyembunyikan usia Tamad, petani sepuh di Kawasan Sekarmayang, Desa Bulupayung, Patimuan, Cilacap, Jawa Tengah. Tetapi ia masih tampak sigap membenahi pematang yang rusak di sawahnya.

Hari itu Tamad kelihatan gembira. Matanya berbinar melihat liukan daun tanaman padi yang tertiup angin timuran yang kencang. Berbeda dengan tanaman di petak sebelahnya, padinya bebas hama sundep.

“Ini buktinya yang sebelah kena sundep, yang ini tidak. Kemarin pas tanam itu juga banjir rob, air asin. Ini juga kuat,” ucap petani berusia nyaris 70 tahun ini, sembari menunjuk tanaman padinya yang berusia 50 hari setelah tanam, akhir Agustus 2020 lalu.

Sejak usia belasan, Tamad telah tinggal di Sekarmayang, sebuah wilayah sedimentasi Laguna Segara Anakan. 50 tahun lebih, baru pada Mei 2020 lalu ia menyaksikan banjir rob yang begitu besar dan meluluhlantakkan ribuan hektare tanaman padi.

Ia sadar, saat tanaman padi terkena banjir rob, maka tanaman padi itu akan mati. Kalau pun sudah berbuah, maka bulirnya dipastikan kosong alias gabuk. Padahal, lahan di Sekarmayang cukup luas, mencapai 500 hektare lebih.

Karenanya, ia sangat antusias ketika Koperasi Desmantara hendak menguji coba padi resisten air asin di kawasan Sekarmayang. Terlebih karena posisinya sebagai Ketua Kelompok Tani Maju Makmur. Nama benih padinya adalah Inpari Unsoed 79 Agritan.

Koperasi Desmantara dan kelompok tani ini bertaut lantaran concern-nya yang sama di bidang pangan. Dan Sekarmayang, hanya lah salah satu sekian banyak dari klaster pangan yang coba dibangun oleh Koperasi Desmantara.

Baca Juga

Jedko: Jaringan Ekonomi Desa, UMKM dan Koperasi

Akhmad Fadli, Direktur Desmantara mengatakan selain klaster padi di kawasan pasang rob air laut, Desmantara bekerja sama dengan sejumlah kelompok tani dan pemerintah desa di Cilacap dan Banyumas membangun klaster padi aromatik, organik, hingga varietas yang dipersiapkan untuk suplai beras premium.

“Kerja sama kami dengan petani untuk menyasar segmen pasar padi aromatik juga cukup besar. Petani yang menanam, kami mendampingi mulai perawatan dan pascapanen. Kami menyerap dan memasarkan,” ucapnya.

Di luar beras, koperasi ini juga bekerja sama dengan perajin gula kelapa dan UMKM. Salah satunya produsen kecap skala kecil. Pendampingan dilakukan sejak praproduksi, produksi hingga pengemasan.

Dalam hal ini, Desmantara menggenjot pemasaran melalui jaringan warung kelontong di pedesaan dan BUMDes. Terbukti, salah satu UMKM kecap di Kawunganten, mengalami lonjakan signifikan hingga empat kali lipat dari omzet sebelumnya.

“Pernah mencapai 18 ribu pcs dalam satu bulan. Gula juga diambil dari mitra,” kata Aris, pemilik usaha kecap, di Kawunganten.

Fadli bilang, di tengah lesunya ekonomi akibat pandemi Covid-19, petani dan UMKM memang perlu berbenah. Soal pemasaran misalnya, produk tak bisa lagi hanya mengandalkan pemasaran konvensional.

Jaringan pemasaran dibangun dengan komitmen yang kuat. Para pelaku terdiri dari kelompok tani, UMKM, BUMDes, dan pula melibatkan perusahaan. Salah satunya, PT Mitra Desa Banyumas (MDB), yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh anak perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT MBN.

Dalam jangka panjang, Fadli yakin komitmen ini akan mengentaskan pelaku UMKM dan petani di pedesaan dari gempuran produk lain yang semakin menjamur. Kuncinya adalah pada kualitas produk dan jaringan pemasaran yang kuat.

Ia menyebut konsepnya sebagai jaringan ekonomi desa, UMKM dan koperasi, disingkat Jedko. Konsep berjaringan ini akan membuat para pelaku usaha semenjana, kalau tak mau dibilang kecil, bisa bertahan meski di tengah pandemi.

Pola Kemitraan

“Kami membangun klaster untuk memastikan ketersediaan produk. Kemudian, kami juga membangun jaringan pemasaran, baik secara online maupun offline,” kata Fadli.

Tak hanya di bahan pangan pokok, Koperasi Desmantara juga telah mendampingi petani buah di sejumlah wilayah. Salah satunya di Cikuya, Kecamatan Wanareja dan Sarwadadi, Kawunganten.

Pendampingan ini bermula dari fakta bahwa potensi buah-buahan dari pedesaan masih belum termanfaatkan secara maksimal. Yang memprihatinkan, harga di tingkat petani sangat rendah, terutama pada masa pandemi ini.

Karenanya, pihaknya lantas bermitra dengan beberapa pengusaha buah untuk menyerap produk. Selain itu, koperasi juga menyasar konsumen langsung atau end user.

Langkah ini dilakukan untuk merespons kecenderungan konsumen yang menghendaki pengiriman langsung (delivery order) menyusul pandemi Covid-19. Misalnya, bermitra dengan toko buah dan rumah makan.

Ketua Kelompok Petani Cinta Tani Cikuya, Karsiman mengatakan melalui jaringan itu, petani belajar tata kelola pertanian yang lebih maju hingga pengelolaan pascapanen. Misalnya, pemupukan, perawatan tanaman dan buah, hingga pengemasan.

“Harapan kami nanti produknya lebih bagus dan harganya juga lebih tinggi,” ucap Karsiman.

Karsiman menjelaskan, biasanya petani menjual langsung hasil panen kepada pengepul buah atau tengkulak. Namun, dengan berjaringan ini, petani melalui kelompok membeli buah dan langsung dikemas.

Saat ini, petani lebih berkonsentrasi bertanam pisang. Populasi mencapai kisaran 70 ribu batang dengan produksi sekitar satu ton per pekan. Nyaris semua jenis pisang ditanam oleh petani, namun dengan unggulan jenis pisang ambon hijau, ambon kuning, raja, cavendish dan baranang.

SUMBER

Share Is Cool