Investor Grab & Tokopedia Ini Rugi Rp 133,5 T

JS NEWS- Softbank Group, investor Grab dan Tokopedia, melaporkan rugi bersih tahun fiskal 2019 sebesar US$8,9 miliar atau setara Rp 133,5 triliun (asumsi Rp 15.000/US$) dampak dari penyebaran virus corona baru penyebab Covid-19 dan investasi bermasalah di WeWork, startup co-working space.

Kerugian ini lebih besar dari proyeksi perusahaan yang sebelumnya memperkirakan rugi bersih US$8,4 miliar pada tahun fiskal 2019 yang berakhir Maret 2020. Ketika itu manajemen mengingatkan investor akan kondisi ‘pasar yang memburuk’.

Dalam keterangan pers, SoftBank mengungkapkan divisi investasinya, termasuk Vision Fund untuk mendanai para startup unicorn dunia, terkena dampak buruk dari krisis kesehatan global.

Divisi ini melaporkan kerugian operasional 1,36 triliun yen atau setara US$12,6 miliar dan mengingatkan investor “bila pandemi corona terus berlanjut akan membuat ketidakpastian pada bisnis investasi selama satu tahun fiskal berikutnya,” ujar perusahaan seperti dilansir dari AFP, Senin (18/5/2020).

Fakta ini akan memberikan tekanan tambahan bagi pendiri SoftBank Masayoshi Son. Selama ini dia dikenal sebagai sinterklas yang gemar mengguyur dana dalam jumlah besar pada startup unicorn dunia lewat Vision Fund yang mengelola dana US$100 miliar. Di Indonesia SoftBank berinvestasi besar di Tokopedia dan Grab.

Kebijakan ini sering mendapatkan kritikan karena beberapa kali Masayoshi berani berspekulasi untuk menyuntikkan dana besar bagi startup dengan model bisnis tak jelas.

Belum lagi SoftBank kini harus berurusan dengan Wework. Startup awalnya dipuja namun belakang diketahui memiliki masalah pada tata kelola perusahaan yang membuat investor pasar modal enggan berinvestasi di startup ini.

Kebiasaan bakar uang untuk menggenjot bisnis telah membuat WeWork hampir bangkrut. Softbank menggelontorkan dana lebih dari US$ 5 miliar untuk selamatkan perusahaan ini. Kini mereka berseteru di jalur hukum.

Baca Juga

Bos SoftBank Akui Kebodohannya Suntik Startup Ini Rp 277 T

CEO SoftBank Masayoshi Son mengakui keputusannya untuk investasi di WeWork, startup co-working space, sebagai sebuah kebodohan. Anjloknya valuasi startup ini telah membuat SoftBank rugi besar.

“Bodoh sekali saya berinvestasi di WeWork. Saya salah,” ujar Masayoshi Son dalam analis meeting seperti dilansir dari Business Insider, Selasa (19/5/2020).

WeWork awalnya merupakan anak emas SoftBank. Perusahaan investasi asal Jepang ini royal menyuntikkan dana ke perusahaan demi mengejar pertumbuhan bisnis. Namun kemudian diketahui perusahaan memiliki masalah tata kelola (good governance).

WeWork hampir bangkrut ketika gagal melantai di bursa saham Amerika Serikat (AS). Untuk menyelamatkan perusahaan, SoftBank memberikan dana talangan. SoftBank diperkirakan menyuntikkan dana US$18,5 miliar atau setara Rp 277,5 triliun (asumsi Rp 15.000/US$).

Per Maret 2020, valuasi WeWork sudah jatuh ke US$2,7 miliar. Desember 2019, valuasinya US$7,3 miliar. Sebelum IPO, valuasi perusahaan ditaksir US$49 miliar.

Pada tahun fiskal 2019, SoftBank Group melaporkan rugi bersih tahun fiskal 2019 sebesar US$8,9 miliar dampak dari penyebaran virus corona baru penyebab Covid-19 dan investasi bermasalah di WeWork.

Kerugian ini lebih besar dari proyeksi perusahaan yang sebelumnya memperkirakan rugi bersih US$8,4 miliar pada tahun fiskal 2019 yang berakhir Maret 2020. Ketika itu manajemen mengingatkan investor akan kondisi ‘pasar yang memburuk’.

SUMBER

Share Is Cool