Dampak Program Inkubator bagi Perkembangan Startup Tahap Awal di Indonesia

JS NEWS- Perkembangan ekosistem startup di Indonesia kian menarik. Makin banyak startup dari berbagai bidang bermunculan. Selain itu, kucuran dana dari investor-investor asing ataupun lokal terus berdatangan.

Program-program inkubator dan akselerator juga makin ramai. Mereka siap membantu startup tahap awal untuk tumbuh dengan cepat, terutama dalam hal penyempurnaan model bisnis dan pengembangan produk.

Di Indonesia sendiri ada sederet program inkubator yang telah membantu sejumlah startup tahap awal mengembangkan bisnis masing-masing. Sebut saja Indigo, Skystar Ventures, serta Plug and Play Indonesia. Pada Mei 2018 lalu, Angel Investment Network Indonesia (ANGIN) mengidentifikasi ada 53 program pendukung perkembangan startup di nusantara.

Para penyelenggara kegiatan inkubasi secara garis besar menawarkan program mirip. Selama masa inkubasi, mereka akan membantu startup melakukan validasi ide, membangun produk sesuai kebutuhan pasar, mempertemukan dengan para mentor berpengalaman, serta memberi akses untuk mendapat pendanaan dari investor.

Hal-hal tersebut memang cukup vital bagi startup yang baru mulai dirintis. Jadi, bukan hal yang mengherankan apabila program-program inkubasi selalu ramai pendaftar. Contohnya, program Thinkubator yang berlangsung Maret 2019 lalu mendapatkan 1.169 pendaftar.

Bukan hanya soal pendanaan

Salah satu manfaat yang dijanjikan oleh inkubator adalah akses ke investor agar para peluang startup peserta mendapat pendanaan makin terbuka. Bahkan, banyak juga inkubator yang memberikan hadiah berupa uang bagi peserta terbaik dalam setiap batch.

Berdasar data laporan yang dirilis ANGIN, para inkubator di Indonesia biasanya bisa memberikan pendanaan sekitar US$18.500 (setara Rp260 juta) untuk kepemilikan saham antara 10 hingga 15 persen.

Program inkubasi tidak hanya soal pendanaan saja, setidaknya menurut Plug and Play Indonesia. Meski mereka juga memberikan pendanaan sejumlah US$50.000 (sekitar Rp700 juta) kepada beberapa startup binaannya, namun manfaat utama dari program yang mereka tawarkan adalah menghubungkan startup dengan mitra dan pasar yang tepat.

“Plug and Play sendiri hadir untuk menjadi jembatan antara perusahaan-perusahaan besar yang mencari solusi dengan startup-startup yang menawarkan solusi. Sehingga perusahaan besar yang seperti gajah dan startup yang seperti semut bisa bergerak cepat. Punya titik temu,” jelas Wesley Harjono, Managing Director Plug and Play Indonesia.

BACA JUGA : Gelontoran Modal Asing dalam Bisnis Startup

Wesley melihat, pola pikir perusahaan besar yang sebelumnya selalu ingin menghadirkan inovasi sendiri mulai bergeser. Kini mereka lebih terbuka untuk bekerja sama dengan inovasi yang dihadirkan oleh startup dibanding memaksakan diri melahirkan inovasi dari tim internal.

Selain bertemu dengan pasar yang tepat, terhubung dengan perusahaan-perusahaan yang membutuhkan layanan membuat startup lebih mudah memahami apa saja kebutuhan pasar. Dampaknya, mereka bisa mengembangkan produk mereka hingga bisa mencapai product-market fit.

“(Sebelumnya) point of view kita kecil, scope kita hanya sebatas dari teman-teman tim Piniship saja. Baru setelah bergabung, saya bisa melihat dari eagle eye, barulah gambaran besar (tentang kebutuhan pasar) mulai muncul,” ujar Julio selaku founder dari Piniship. Piniship sendiri adalah salah satu startup binaan Plug and Play Indonesia yang membantu logistik ekspor Indonesia.

“Sekarang, startup kita sudah dilihat oleh pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan.”

Para penyelenggara program inkubator menyadari bahwa tiap startup memiliki kendala berbeda. Itu sebabnya kegiatan mentoring dan networking yang diselenggarakan tidak hanya seputar sisi bisnis saja. Ahmad Zaki Anshori, CTO dari ATM Sehat, mengungkapkan bisa berkonsultasi dengan AWS dan Alibaba Cloud untuk membahas kebutuhan server dari produknya berkat mengikuti program inkubasi.

Sejumlah penyelenggara program inkubator juga menawarkan sarana kantor dengan harga terjangkau. Dengan office space yang nyaman dan dukungan fasilitas yang lengkap, para founder startup bisa fokus mengurus bisnis tanpa perlu memusingkan hal-hal lainnya.

Dampak program inkubasi

startup inkubator

Startup melakukan pitching di akhir masa program inkubasi

Tujuan dari program inkubasi adalah membantu startup agar bisa tumbuh lebih cepat dengan menghadirkan ekosistem kondusif. Segala sesi mentoring dan networking yang diberikan tidak akan berarti banyak jika pada akhirnya tidak memberi dampak pada pertumbuhan bisnis startup binaannya.

Mengenai dampak pertumbuhan, Julio merasakan program inkubasi menyesuaikan materinya dengan kapasitas startup itu sendiri. Bentuk dukungan ataupun mentor yang hadir akan disesuaikan, agar startup yang dibina tidak hilang arah setelah mendapat gambaran besar atau memasang target tinggi.

BACA JUGA : Panduan bagi Founder Startup dalam Menghadapi Masa-Masa Sulit

“Dulu kita sebulan hanya bisa handle 10 hingga 30 kontainer. Kini kita dipercaya untuk pegang empat pelabuhan di kawasan Indonesia Timur. Pertumbuhan per bulan bisa naik hingga 20 kali lipat, menjadi 100 sampai 200 kontainer.

Dampak positif juga dirasakan oleh Sampingan, startup asal Jakarta yang membantu para freelancer mendapat akses pekerjaan lebih luas. Mantan manajer GO-JEK, Wisnu Nugrahadi bersama para co-founder Margana Mohamad dan Dimas Pramudya, bergabung dalam acara inkubasi startup Antler yang berlangsung pada Juli 2018.

“Sebelum mengikuti program Antler, saya tidak memiliki insight maupun network yang cukup untuk membuat suatu perusahaan startup, terutama di bagian fundraising,” ungkap Wisnu kepada Tech in Asia. Dengan bimbingan Antler, hanya dalam empat bulan sejak Sampingan berdiri, kami sudah mendapatkan seed investment dari salah satu VC terbesar di Asia Tenggara.”

Pada Desember 2018 lalu, Sampingan mengumumkan telah menerima pendanaan sebesar US$600.000 (sekitar Rp8,3 miliar) dari Antler dan Golden Gate Ventures.

Dampak setelah program inkubasi usai

Dampak positif dari program inkubasi tidak berhenti saat program berakhir. Sampingan mengaku mengalami pertumbuhan yang semakin cepat. Dalam sembilan bulan terakhir, tim mereka berkembang dari 3 menjadi 50 orang. Sementara jaringan mitra Sampingan (freelancer) juga berkembang jadi 8.000 orang di 25 kota.

Testimoni serupa disampaikan Wynn Wijaya selaku founder Weston Energy, startup yang bergerak di bidang energi terbarukan dan salah satu alumni program Plug and Play batch kedua. Wynn merasa mentorship untuk melakukan pitching menjadi bekal sangat bermanfaat hingga kini, baik dalam mencari investor maupun klien.

Selain itu, titel sebagai salah satu alumni program inkubasi juga sangat membantu dalam membangun kredibilitas. Hasilnya, Weston Energy berhasil bekerja sama dengan beberapa pihak, dan telah mengaplikasikan energi terbarukan di beberapa daerah seperti Lombok, Sumba, dan Palu.

BACA JUGA : Pengusaha Cerdas Membangun Startup Tanpa Investor

Meskipun bukan hal wajib, keberadaan program inkubasi atau akselerasi mampu membantu startup tahap awal bisa tumbuh lebih cepat. Bahkan mereka yang belum memiliki ide sekalipun.

Bukan berarti dengan banyaknya bantuan yang ditawarkan program inkubasi maka masalah para founder jadi terselesaikan semua. Masih banyak tantangan yang perlu dijawab agar startup tersebut bisa terus berkembang, dan menjadi unicorn berikutnya dari Indonesia.

SUMBER

Share Is Cool