Dampak Performa Buruk WeWork Bagi Ekosistem Startup di Indonesia

JS NEWS – Pada Agustus 2019 lalu, WeWork mengumumkan rencana initial public offering (IPO) mereka. Namun rencana tersebut akhirnya gagal. Bahkan valuasi WeWork yang sebelumnya US$47 miliar (sekitar Rp663 triliun) anjlok ke kisaran US$5 miliar (Rp70,5 triliun). 

Kabar anjloknya valuasi WeWork menjelang IPO ini cukup menghebohkan ekosistem teknologi di seluruh dunia.

Kejadian tersebut memperkuat asumsi yang menganggap hypergrowth dan valuasi tinggi di dunia startup merupakan sebuah bubble dan bisa meletus sewaktu-waktu. Apalagi beberapa waktu sebelumnya, Uber juga sempat menjadi sorotan akibat performa mereka yang lesu di pasar saham.

Di Indonesia, kecemasan itu juga terasa. Beberapa pihak merasa ekosistem startup Indonesia yang tumbuh dengan cepat beberapa tahun terakhir berpotensi mengalami nasib yang sama. Untuk melihat bagaimana dampak WeWork terhadap Indonesia, Tech in Asia berdiskusi dengan beberapa tokoh untuk mendengar perspektif mereka. 

Imbas bagi venture capital

Banyak yang beranggapan kasus WeWork bisa terjadi akibat investor mereka kurang berhati-hati dalam menggelontorkan uang. Hingga akhirnya muncul asumsi kalau investor startup nantinya akan makin berhati-hati dalam memberi pendanaan.

Proses due diligence yang dijalankan sebelum akhirnya mencapai kesepakatan diperkirakan akan jadi jauh lebih ketat, khususnya pada pembahasan bidang finansial.  

Tapi Donald Wihardja, Partners dari Convergence Ventures sekaligus Wakil Ketua Asosiasi Modal Ventura Indonesia (Amvesindo) mengatakan, sebenarnya di emerging market, pembicaraan soal revenue dan profit dari dulu sudah dibicarakan.

“Justru sudah strict sejak awal,” kata dia. 

valuasi wework | donald wihardja

Donald Wihardja, Wakil Ketua Asosiasi Modal Ventura Indonesia.

Edmund Carulli selaku Investment Portfolio Manager dari Salim Group juga menyatakan hal senada. Pihaknya juga sangat ketat dalam menilai keadaan finansial suatu perusahaan. 

Kami tidak pernah cocok dengan startup yang terlalu jor-joran dalam bakar duit. Kami lebih tertarik dengan startup dengan sustainable growth. Edmund Carulli, nvestment Portfolio Manager Salim Group

Donald Wihardja berpendapat, ekosistem startup di Indonesia tidak akan banyak terganggu oleh kasus WeWork yang berlokasi di Amerika Serikat.

Ia menyatakan, sejak awal valuasi startup di Amerika memang banyak yang terlalu tinggi. Berbeda dengan valuasi startup di Indonesia yang menurutnya masih wajar dan sesuai dengan kapasitas bisnis perusahaan.

Dibanding menjadi lesu, ia justru optimis ekosistem Indonesia akan tetap tumbuh. Donald kemudian mengutip temuan dari Google dan Temasek yang menyatakan Indonesia di tahun 2019 memiliki ekonomi internet terbesar di Asia Tenggara, mencapai sebesar US$40 miliar (sekitar Rp566,2 triliun).

Gross Transaction Value (GTV) kita sudah sama dengan India, padahal jumlah penduduk mereka empat kali lebih banyak. Ini jelas hal yang positif.” 

Sebagai orang Amvesindo, Donald menyatakan sama sekali tidak melihat adanya perlambatan pergerakan dari venture capital dalam memberi pendanaan ke Indonesia. Semuanya masih tahap wajar. Apalagi ada beberapa sektor yang sedang tumbuh pesat di Indonesia. Seperti teknologi finansial (fintech), edukasi, dan juga agraria.

Karakteristik pasar di Indonesia berbeda dengan AS 

Mantan Menteri Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia Periode 2014-2019, Rudiantara, menilai ekosistem digital Amerika Serikat sangat berbeda dengan ekosistem di Indonesia.

Ada dua hal yang menjadi pembeda ekosistem startup di Amerika dan Indonesia menurut Rudiantara.

  • “Pertama dari segi pasar, untapped market di Indonesia masih sangat-sangat besar,” jelas Rudiantara.

Ia mengatakan, saat ini angka penetrasi internet berada di 64,8 persen. Artinya ada 171,17 juta orang yang bisa disentuh oleh pelaku startup. Angka tersebut akan terus meningkat dari tahun ke tahun seiring penetrasi internet yang semakin luas.

Salah satu komitmen pemerintah dalam mengembangkan ekosistem digital dalam negeri bisa dilihat dari proyek Palapa Ring. Layanan ini akan memberikan koneksi internet yang memadai untuk berbagai daerah terpencil di Indonesia.

Belum lagi dukungan-dukungan lain seperti Gerakan 1000 Startup dan juga berbagai upaya memudahkan regulasi investasi di Indonesia. Rudiantara percaya berbagai inisiatif ini akan mendapat respon baik oleh para investor.

  • Faktor kedua, berdasarkan karakter rata-rata startup Indonesia juga berbeda. Rudiantara tidak melihat adanya kecenderungan overspentdari startup Indonesia meskipun mereka baru saja mendapat pendanaan dalam jumlah yang besar.

Startup Indonesia itu cautiously aggressive. Beda dengan WeWork, yang agresifnya gila-gilaan. (Di Indonesia) ekspansinya lebih terukur.”

WeWork memang dikenal akan ekspansinya yang agresif. Bergerak di bidang penyewaan ruang kerja dan ruang komunal (coworking space), mereka bisa meluaskan jangkauan bisnis di berbagai negara dalam rentang waktu yang sangat berdekatan. Padahal, untuk menjalankan model bisnis yang dijalankan WeWork membutuhkan biaya operasional yang tinggi.

Dari situ Rudiantara mengingatkan pelaku startup akan pentingnya validasi pasar sebelum berekspansi. Ia mengaku banyak bertemu dengan founder startup Indonesia yang melakukan validasi pasar dengan terburu-buru. Sehingga dampaknya ketika produk mereka dilepas di pasar, hasil yang didapat tidak sesuai harapan.

BACA JUGA : Bagaimana Sebaiknya Startup Mengeksekusi Rencana Keuangan Setelah Kantongi Pendanaan

Harus jadi pelajaran semua founder

Masalah yang terjadi pada WeWork memang menjadi perhatian semua pihak. Irzan Aditya, founder dan CEO dari Kata.ai menilai, apa yang terjadi kepada WeWork tidak bisa menjadi representasi iklim startup dunia, termasuk di Indonesia.

Ia melihat jebloknya performa WeWork lebih dipicu karena faktor internal dibanding kegagalan sistemik. “Dari sisi manajerial WeWork sendiri, CEO mereka kan juga cukup nyeleneh. Itu juga salah satu penyebab kuat (turunnya valuasi WeWork).“

Dibanding menjadikan kasus WeWork sebagai momok yang menakutkan, Irzan justru melihat ini bisa menjadi materi pembelajaran bagi para founder startup di Indonesia pasca mendapat pendanaan.

“Mungkin bagi startup di tahap (pendanaan) seed dan Seri A belum terlalu terasa. Tapi untuk mereka yang later stage, bisa belajar dari kasus ini, khususnya dalam hal manajerial dan pendanaan.”

Ia menekankan pentingnya memiliki proyeksi meraih profit meskipun model bisnis yang dimiliki startup masih dinamis dan bisa berubah. Sehingga startuptidak terjebak di aktivitas bakar duit demi penetrasi pasar terus-menerus, namun pelan-pelan bisa mulai menyeimbangkan expense dan revenue agar akhirnya meraih profit.

Adam Neumann, mantan CEO WeWork.

Soal hal nyeleneh yang disampaikan Irzan perihal Adam Neumann, mantan CEO dari WeWork, memang mendapat perhatian banyak pihak. Ia dinilai bermasalah dalam memimpin perusahaan.

Adam Neumann dikabarkan pernah menyalahgunakan fasilitas jet pribadiyang disediakan, menginvestasikan uang perusahaan dengan tidak cermat, hingga mematenkan brand “We” dan meminta perusahaannya membeli paten tersebut darinya seharga US$5,9 juta (sekitar Rp83,1 miliar).

Selain masalah personal Adam Neumann, aktivitas bakar duit WeWork juga menjadi hal lain yang memperburuk keuangan perusahaan. 

Kini, Softbank selaku investor utama WeWork telah mengambil alih perusahaan dan berupaya mengembalikan WeWork ke jalur yang positif. Adam sudah diminta mundur dari posisi CEO, dan sementara digantikan oleh Artie Minson dan Sebastian Gunningham sebagai Co-CEO.

BACA JUGA : Investasi Asing pada Startup Berpotensi Rugikan Indonesia

SoftBank selaku penyokong dana WeWork telah berkorban banyak dalam masalah ini. Di Indonesia, VC asal Jepang ini juga menanamkan modalnya. Salah satunya ke Tokopedia yang juga punya valuasi besar dan masih aktif ‘bakar duit’.

Tapi Nuraini Razak, VP of Corporate Communications Tokopedia, menegaskan bahwa hubungan Tokopedia dan SoftBank terjalin baik sejak awal dan tidak terimbas isu eksternal. Ia menegaskan, tidak ada perubahan apapun dari investor asal Jepang tersebut.

“Sejak berdiri sepuluh tahun lalu model bisnis kami sudah jelas, dan itu sudah dipahami oleh para investor, termasuk SoftBank. Dan kami dalam menjalankan bisnis tidak lihat kanan-kiri, kita fokus pada visi kami.”

SUMBER

Share Is Cool