BiZhare – Startup Investasi dengan Sistem Gotong Royong

JS NEWS- Equity crowdfunding atau sistem investasi gotong royong barangkali belum terlalu populer sebagai salah satu cara berinvestasi di masyarakat.

Sistem ini memungkinkan masyarakat patungan untuk menjadi pemilik sebuah usaha tanpa perlu turun langsung ke dalam operasionalnya. Dengan kata lain, hal ini dapat menjadi cara bagi masyarakat untuk mendapatkan passive income.

Di Indonesia, skema investasi gotong royong berbasis platform teknologi telah diperkenalkan oleh sejumlah startup fintech. 

Setelah merilis POJK Nomor 37/POJK.04/2018 tentang Layanan Urun Dana Penawaran Saham Berbasis Teknologi pada Desember 2018, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat setidaknya ada 10 perusahaan yang tengah mendaftar untuk memperoleh izin.

Dari jumlah tersebut, baru dua perusahaan yang mendapatkan izin. Mereka adalah Santara startup fintech asal Yogyakarta yang dapat izin pada September 2019, dan BiZhare yang mendapatkan izin pada November 2019.

Mengawal lahirnya regulasi

Founder & CEO BiZhare Heinrich Vincent mendirikan perusahannya pada Juni 2017 melalui Gerakan Nasional 1000 Startup Digital batch yang diadakan oleh Kominfo. Saat itu, dia mendirikan startup investasi gotong royong sebelum adanya payung hukum mengenai hal tersebut.

Alhasil, ia menjadi salah satu pelaku usaha yang mengawali lahirnya POJK37. Bersama-sama dengan OJK, Heinrich memberikan input dan terlibat dalam focus group discussion mengenai tata kelola dan aturan teknis yang perlu diatur dalam regulasi.

Kata Heinrich konsep yang mereka jalankan tidak melanggar undang-undang apapun. Ia menganggapnya konsep bisnis biasa saja.

Equity crowdfunding ini kan investasi dengan kepemilikan saham di sebuah PT, tapi karena dulu belum ada peraturannya, belum ada kustodian, akhirnya kita jalannya manual. Kita tulis nama investornya satu per satu di akta PT. Heinrich Vincent, Founder & CEO BiZhare

Setelah lahirnya POJK37, BiZhare atau PT Investasi Digital Nusantara langsung melakukan pendaftaran perizinan sejak 29 Januari 2019. Namun, mengingat proses verifikasi yang cukup selektif dan memakan waktu, akhirnya izin operasi itu baru dikantungi BiZhare pada 6 November 2019.

Bagaimana model bisnis dan rencana ekspansinya

Heinrich menyatakan, BiZhare berangkat dari kebiasaan masyarakat untuk patungan dengan teman-temannya ketika memulai usaha. Bedanya, sebelum adanya platform teknologi, jumlah orang yang dapat turut serta dalam patungan cukup terbatas. Akibatnya, jumlah nominal dana yang diperlukan untuk memulai usaha cukup besar.

Namun, kini dengan adanya platform teknologi yang didukung dengan regulasi, jumlah orang yang dapat turut serta dalam patungan semakin banyak. Berdasarkan regulasi yang ada, masyarakat cukup mengeluarkan minimal dana Rp5 juta per lembar saham untuk menjadi pemilik suatu usaha melalui skema equity crowdfunding.

Dalam menjalankan model bisnisnya, BiZhare bertindak sebagai “bursa efek” bagi penerbit. Penerbit di sini adalah perusahaan yang ingin menjual kepemilikan sahamnya kepada masyarakat.

Baca Juga : Dampak Performa Buruk WeWork Bagi Ekosistem Startup di Indonesia

BiZhare hanya melayani penerbit yang berasal dari perusahaan waralaba terkemuka dan telah terbukti ketahanan bisnisnya. Meski demikian, ke depannya Heinrich mempertimbangkan opsi penerbit yang berasal dari Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

Misalnya, salah satu cabang waralaba yang telah berhasil didanai adalah Indomaret cabang Karang Tanjung, yang memperoleh investasi Rp900 juta dari 45 investor. Usaha lainnya seperti tambak udang Vaname Lampung, didanai hingga Rp210 juta dari 21 investor.

Secara garis besar, BiZhare melakukan sejumlah tahapan sebelum melakukan penawaran saham penerbit ke publik;

  • Melakukan verifikasi legalitas perusahaan penerbit,
  • Bekerja sama dengan franchiser menganalisa model bisnis dan kelayakan usaha penerbit,
  • Mengawal kelangsungan bisnis dan profitabilitas penerbit sesuai studi kelayakan. Hal ini dilakukan untuk menjaga besaran dividen yang akan dibagikan ke investor.

Untuk monetisasi, BiZhare menarik platform fee sebesar 5% dari setiap nilai total investasi, dan juga management fee sebesar 5% dari dividen yang dibagikan.

Dari sebaran geografis, mayoritas lokasi penerbit masih berada di Pulau Jawa dan Provinsi Lampung untuk usaha tambak udang, sedangkan untuk investor tersebar di seluruh Indonesia. Mayoritas profil investornya adalah masyarakat pekerja usia 25 hingga 40 tahun.

Hingga tahun keduanya ini, BiZhare telah menyalurkan investasi total sekitar Rp20 miliar dari 25.000 investor kepada 30 penerbit dari berbagai kategori, seperti ritel, F&B, laundry, agrikultur, jasa, beauty care dan pendidikan.

Heinrich menargetkan, total investasi yang disalurkan hingga akhir tahun ini dapat mencapai Rp40 miliar.

“Kita dari segi model bisnis bukan tipe yang harus burning money terlalu banyak, tetapi kita tetap fundraising untuk bisa ekspansi lebih cepat. Sebenarnya dengan mengandalkan revenue yang sudah ada kita tetap bisa jalan sih, cuma tidak cepat dan memenuhi scale yang ada,” ungkapnya.

BiZhare sejauh ini telah meraih pendanaan tahap awal (seed funding). Pihaknya pun kini fokus meningkatkan traksi usahanya termasuk jumlah investor dan perusahaan penerbit agar memperbesar kemungkinan mendapatkan pendanaan Seri A pada tahun depan.

read also

BACA JUGA : Likuid Tawarkan Skema “Crowdfunding” untuk Pendanaan Startup dan Industri Kreatif

BiZhare juga mengikuti program akselerasi, salah satunya program SYNRGY Accelerator yang diadakan oleh BCA dan Digitaraya.

Selain itu, BiZhare juga mendaftar ke KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) agar memperoleh izin penyelenggaraan mekanisme jual beli saham investor di pasar sekunder.

Dengan demikian, saham investor yang telah dibeli selama minimal satu tahun dapat diperjualbelikan ke sesama investor. Hanya saja, berbeda dengan pasar modal biasa, waktu jual beli yang diperkenankan hanya sebanyak dua kali dalam setahun.

Menjalankan bisnis dengan skema yang relatif baru memang bukan hal yang mudah. Untungnya, Vincent berangkat dari komunitas yang beranggotakan masyarakat yang gemar berinvestasi waralaba sehingga anggota komunitasnya menjadi investor pertama BiZhare.

Tapi bukan tidak sulit, masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi BiZhare:

  • Edukasi ke masyarakat khususnya investor ritel yang belum familiar dengan skema equity crowdfunding,
  • Menanamkan kesadaran mengenai besaran imbal hasil penerbit yang tidak tentu, tergantung dengan profitabilitas perusahaan.

Ke depannya, Heinrich meyakini potensi pengembangan equity crowdfunding masih cukup besar. Pemain-pemain baru akan bermunculan. Namun, berbekal pengalaman mengurus banyaknya kasus peer to peer lending bermasalah, dia menilai regulator kini lebih selektif dalam memberikan izin kepada pemain baru.

“Industrinya masih akan growing. Kita sih cukup senang karena semakin banyak pemain semakin banyak yang membantu edukasi masyarkat,” ungkapnya.

SUMBER

Share Is Cool