Belajar Tentang Koperasi Dari Skandinavia

JS NEWS – Koperasi tentu sudah menjadi istilah yang tidak asing di masyarakat kita. Sejak dari bangku Sekolah Dasar kita sudah diberi pengetahuan tentang koperasi yang sering disebut sebagai soko guru perekonomian Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering menyaksikan beberapa bentuk koperasi seperti Koperasi Unit Desa, Koperasi Simpan Pinjam, Koperasi Karyawan, Koperasi Sekolah, dan Koperasi Mahasiswa. Sayangnya, kita juga sama-sama tahu bahwa meskipun koperasi sudah dikenal luas, ia masih belum menjadi pilihan utama kegiatan perekonomian di Indonesia. Sebuah ironi bagi negara yang selalu mengaku bahwa koperasi adalah soko guru perekonomiannya.

Berbicara lebih lanjut mengenai koperasi, agaknya Indonesia perlu belajar tentang koperasi pada negara-negara Nordik atau Skandinavia (Denmark, Finlandia, Norwegia, Swedia) seperti yang dulu dilakukan oleh Bapak Koperasi Indonesia, Mohammad Hatta. Salah satu contoh koperasi yang bisa digunakan sebagai bahan pembelajaran di Indonesia dari Skandinavia adalah Coop Nordic. Koperasi tersebut adalah koperasi konsumen hasil merger tiga koperasi konsumen di tiga negara Skandinavia, sebagai langkah strategis menghadapi globalisasi. Lahirnya koperasi ini menandakan era koperasi transnasional sudah dimulai. Kehadiran Coop Nordic terbukti mampu memacu peningkatan pangsa pasar ritel FMCG (Fast Moving Consumer Goods) di setiap negara, dan menambah jumlah outlet supermarket. Sebagian produk yang dipasarkan, sudah diberi label milik koperasi.

Keunggulan koperasi konsumen di Skandinavia dibanding perusahaan ritel swasta, antara lain terletak pada keberadaannya yang terhubung ke koperasi produsen, terutama pertanian dan peternakan, yang produk olahannya menguasai pasar di negaranya masing-masing. Data dari tahun 2009 menunjukkan Coop Nordic mempekerjakan 28.290 karyawan yang tersebar di tiga negara, dan mengoperasikan 3.000 outlet. Dari seluruh outlet yang dioperasikan, koperasi mencetak volume usaha sekitar SEK 90 miliar per tahun. Setiap outlet, dikelola secara otonom oleh koperasi di masing-masing negara, agar bisa lebih menyesuaikan dengan kebutuhan anggota koperasi atau konsumen setempat. Sayangnya website Coop Nordic lama sekali tidak diperbarui sehingga data-data terbaru tentang koperasi transnasional ini sekarang lumayan langka di dunia maya.

Koperasi lain dari Skandinavia yang bisa dijadikan rujukan adalah Valio, Munakunta, Metsalitto, OP-Pohjola, dan SOK dari Finlandia. Valio adalah grup yang terdiri dari 8 koperasi bergerak dalam pengolahan susu yang memasok 97% kebutuhan susu dalam negeri. Koperasi ini dimiliki oleh 8.000 peternak dan 6.600 karyawan dengan pendapatan 2 milyar euro per tahun. Munakunta adalah koperasi pemasar telur dan sayuran. Meski luas tanah pertanian tidak lebih dari 5% tapi dengan teknologi canggih, produksi  pertanian bisa mencukupi kebutuhan dalam negeri. Munakunta memiliki 220 anggota dengan pendapatan 60 juta euro per tahun.Dari sektor kehutanan, Metsalitto adalah koperasi produksi terbesar ke lima di Eropa dengan 1200 anggota. Koperasi ini memproduksi aneka olahan kayu seperti tisu dan kertas yang total pendapatannya dua milyar euro setahun.

Di bidang perbankan dan konsumsi OP – Pohjola dan SOK Corporation (biasa di sebut S group) adalah dua grup koperasi papan atas. OP – Pohjola memiliki 180 bank koperasi independen dengan pangsa pasar mencapai 60%. Dari bidang konsumsi SOK Corporation yang memiliki 1646 retail dan  44.000 Karyawan menguasai 45% pangsa pasar. SOK juga meluaskan usaha ke sektor bahan bakar, perhotelan dan restoran dengan jumlah anggota mencapai 1.468.572 orang, merepresentasikan 62% rumah tangga di sana.

Baca Juga

Selain itu, dalam hal tata kelola dan perkembangan koperasi, Finlandia (bersama negara-negara Skandinavia lainnya tentu saja) bisa dibilang selalu berkembang. Pada tahun 2014 jumlah koperasi di Finlandia sebanyak 4.626 Koperasi. Koperasi di Finlandia berkembang pesat karena di dukung oleh sistem pendidikan dan dukungan teknologi canggih. Gerakan koperasi mulai diperkenalkan di berbagai jenjang pendidikan mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Koperasi juga mulai mengembangkan teknologi canggih untuk meningkatkan kualitas pelayanan anggotanya. Meskipun demikian, penulis kira para pegiat koperasi di Indonesia tidak bisa serta merta melakukan salin-tempel terhadap model-model koperasi di Skandinavia karena tentu terdapat banyak perbedaan konteks antara Indonesia dengan Skandinavia. Yang harus dilakukan adalah meniru semangat koperasi-koperasi di Skandinavia agar koperasi-koperasi di Indonesia bisa sama besarnya dengan mereka sambil terus-menerus secara selektif dan kritis mencari model pengembangan koperasi yang cocok dengan konteks Indonesia.

Mari berkoperasi, Koperasi Pasti Bisa !!!

SUMBER

Share Is Cool