Belajar Kesuksesan dari UKM di Selandia Baru

JS NEWS – Pandemi COVID-19 membuat ekonomi Indonesia terpuruk. Berbeda dengan krisis moneter pada 1998 ketika UMKM bisa berperan menjadi penyelamat ekonomi nasional, ketika pandemi COVID-19 mewabah, UMKM justru jadi salah satu sektor yang paling terdampak.

Namun di saat UMKM Indonesia harus berjuang sedemikian rupa untuk bertahan dari dampak pandemi, kondisi yang lebih baik masih dialami oleh UKM dari Selandia Baru. Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, Samoa dan Kerajaan Tonga, Tantowi Yahya mengatakan saat pandemi mewabah dan Selandia Baru harus lockdown, kegiatan bisnis seolah ikut hibernasi. “Tapi di sini di Selandia Baru karena bantuan pemerintah khususnya dari segi digital, para petani, pengusaha UKM masih tetap bisa melakukan aktivitasnya karena mereka semua sudah online,” ungkap Tantowi dalam Webinar Mengintip Sukses UKM Selandia Baru, Sabtu (4/7).Tantowi menjelaskan Selandia Baru memiliki tak kurang dari 460.000 UKM. Jumlah ini setara dari 97 persen dari keseluruhan industri di negara tersebut. Sebanyak 460.000 UKM tersebut hingga saat ini mampu menyerap 600.000 tenaga kerja atau setara 29 persen dari keseluruhan angkatan kerja di Selandia Baru.

Adapun keberadaan 460.000 UKM tersebut tercatat berkontribusi sebesar 28 persen terhadap GDP.“Pertumbuhannya konstan dan tinggi. Bahkan perbulan lahir 850 UKM baru. Ini menunjukkan produktivitas dan keberpihakan pemerintah,” ujar Tantowi.

Menurut Tantowi, salah satu kunci kesuksesan UKM di Selandia Baru adalah karena model bisnis yang digunakan berupa koperasi. Hampir seperlima dari PDB Selandia Baru dihasilkan oleh koperasi. Selain itu tak kurang dari 50.000 orang yang dipekerjakan oleh UKM merupakan anggota koperasi.“Koperasi di sini berfungsi sebagai pembina, mentoring sekaligus pemasar. Sehingga UKM enggak pusing dengan pemasaran. Semua dipasarkan oleh koperasi,” ujarnya.Salah satu koperasi yang sangat besar di Selandia Baru bernama Fonterra Cooperative Group. Saking besarnya banyak orang tidak menyadari bahwa Fonterra merupakan koperasi peternak susu. Anggotanya terdiri dari 10.600 peternak yang ada di seluruh Selandia Baru.

Koperasi tersebut bertugas mengambil susu segar dari peternak, memprosesnya di pabrik lalu mengekspornya ke seluruh dunia. Sampai hari ini Fonterra telah menguasai 30 persen ekspor susu dunia dengan pendapatan NZ$ 19,87 miliar.“Semua susu yang diekspor berbentuk bubuk dan enggak ada susu segar. Bubuk inilah yang kemudian diproses oleh pabrik di masing-masing negara, dicairkan kemudian jadi susu cair dan lain sebagainya,” jelas Tantowi.Foterra ternyata bukan satu-satunya koperasi susu yang sukses di Selandia Baru. Ada pula Miraka yang merupakan koperasi susu milik masyarakat Maori. Koperasi ini memiliki spesialisasi menggunakan energi geothermal. Miraka menghasilkan 250 juta liter susu/tahun dan diekspor ke 23 negara di dunia. Tantowi menjelaskan kesuksesan koperasi-koperasi tersebut tidak lepas dari dukungan pemerintah Selandia Baru. Menurut Tantowi, pemerintah hadir dengan menyediakan lingkungan bisnis yang kondusif. Buktinya saat ini indeks kemudahan berbisnis (Ease of Doing Bussiness) Selandia Baru menempati peringkat pertama di seluruh dunia.

BACA JUGA : Belajar Tentang Koperasi Dari Skandinavia

Salah satu langkah konkret yang dilakukan pemerintah Selandia Baru adalah dengan menyediakan infrastruktur berbasis online. Yang pertama yaitu business.govt.nz yang berisi gabungan informasi dari 24 lembaga pemerintah dan sektor swasta yang diperlukan UKM.Kemudian ada juga Regional Business Partner, sebuah lembaga konsultasi yang dibentuk pemerintah untuk mendorong pertumbuhan UKM. Lembaga ini memberikan konsultasi di bidang mentoring, fund management, inovasi dan pendanaan. Kemudian ada juga lembaga bernama Callaghan Innovation, yaitu lembaga yang didesain untuk memberikan asistensi kepada UKM agar bisa meningkatkan inovasinya. Lembaga ini membantu UKM berkembang dengan memberikan akses kepada bisnis inkubator dan akselerator.Lalu ada pula New Zealand Business number, ini adalah sistem registrasi single identity number yang mempermudah UKM untuk berinteraksi dengan lembaga pemerintah atau pelaku industri lainnya.

“Digitalisasi UKM akan membuat proses bisnis UKM menjadi efisien dan akan memudahkan assesment dari investor untuk dapat pendanaan,” ujarnya.Di sisi hilir, pemerintah Selandia baru juga mendorong UKM agar berpartisipasi dalam perdagangan internasional. Tantowi mengatakan berdasarkan penelitian pemerintah Selandia Baru, salah satu cara agar UKM berkembang adalah dengan terlibat aktif dalam perdagangan internasional. “Termasuk turut serta dalam sistem perdagangan bebas. Adanya perdagangan bebas ini telah menurunkan berbagai hambatan perdagangan dan membuka pasar baru,” tandasnya.

SUMBER

Share Is Cool