Bagaimana Membangun UX Team yang Ideal untuk Startup Tahap Awal?

JS NEWS-Masih ingat dengan layanan jasa antar makanan berbasis aplikasi Foodpanda? Startup yang hadir di Indonesia sejak tahun 2013 itu mesti tumbang pada tahun 2016 karena tidak dapat bersaing dengan layanan serupa yang ditawarkan GO-JEK dan Grab.

Salah satu cara untuk mempertahankan pengguna di tengah gempuran aplikasi-aplikasi serupa adalah dengan membuat mereka nyaman saat menggunakan produk digitalmu. Pasalnya, riset yang dilakukan Dot Com Infoway (DCI) menunjukkan, 71 persen pengguna menghapus aplikasi yang telah mereka unduh dengan alasan tampilan aplikasi serta pop up notifikasi yang mengganggu.

Merujuk pada data tersebut, UX Team sebenarnya memiliki peran yang cukup krusial pada perkembangan bisnis startup. Sayangnya, keberadaan  UX Team di dalam perusahaan seringkali terabaikan. Nielsen Norman Group, perusahaan riset UX Design ternama menyebut, 41 persen praktisi UX tidak mendapat dukungan yang cukup dari manajemen.

Dalam konferensi pengembangan produk Tech in Asia Product Development Conference 2018 (TIA PDC 2018) yang lalu, Co-Founder UX Marker, Ervan M. Wirawan, berbagi insight mengenai pentingnya keberadaan UX Team untuk startup tahap awal.

Untuk mempermudah, Ervan mengklasifikasikan cara membangun UX Team ke dalam empat tahap yaitu:

Pahami Definisi UX

Ervan mendefinisikan UX Design sebagai proses membuat produk yang bermanfaat dan memberi pengalaman yang relevan bagi para pengguna. Ia sendiri mengibaratkan UX sebagai penghubung antara kebutuhan pengguna dan tujuan bisnis.

Sebagai pengingat, laporan dari CB Insight menyebut sembilan puluh persen startup berakhir gagal karena produk yang dikembangkan tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna. Nah, kehadiran UX ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk menghindari kegagalan tersebut. Sebab, UX memiliki tanggung jawab untuk melakukan riset produk yang berguna untuk mengidentifikasi peluang produk di pasar.

Ketahui apa yang kamu butuhkan

Menurut Ervan, sebelum memutuskan untuk merekrut UX Designer, setidaknya kamu harus sudah menyusun product roadmap untuk mengetahui apa rangkaian tujuan bisnismu ke depan.
Dengan melihat product roadmap yang kamu buat, kamu bisa mengetahui, kira-kira hal apa saja yang perlu dilakukan UX Designer.

Sementara itu, menurut UX Step by Step, kamu dapat menyusun sejumlah pertanyaan di bawah ini untuk mengetahui tipe UX Designer yang kamu butuhkan:

  • Target apa yang akan kamu capai bersama UX Designer?
  • Tugas apa yang harus diselesaikan UX Designer?
  • Tipe Desainer seperti apa yang kamu butuhkan? Visual atau UX?
  • Berapa budget yang kamu sediakan untuk desainer? Full time atau pekerja lepas?

BACA JUGA : Unicorn bukan satu-satunya binatang dalam dunia startup

Kapan waktu yang tepat untuk merekrut UX?

Dari “kacamata” Ervan, tidak ada aturan yang pasti kapan waktu yang tepat bagi startup untuk merekrut UX Designer. Yang jelas, ketika kamu sudah memiliki ide yang cukup matang dan telah melakukan riset pasar, maka kamu harus sesegera mungkin mencari tim UX.

Namun, yang perlu kamu ingat, salah satu alasan populer mengapa startupberakhir gagal adalah karena tidak adanya tim yang solid. Sehingga, kamu harus jeli dalam mencari praktisi UX.

Lalu, bagaimana komposisi UX Team terbaik untuk startup yang baru tumbuh?

Dengan kondisi dana yang terbatas, bagi Ervan, idealnya, startup yang baru berjalan setidaknya harus memiliki satu Senior UX Designer yang bekerja secara full time. Sebab, mereka bisa mengaplikasikan hal-hal yang telah mereka pelajari sebelumnya ke dalam desain produk digitalmu.

Untuk memangkas biaya yang dikeluarkan, kamu hanya perlu mencari UI Designer atau UX Researcher tipe pekerja lepas yang akan membantu Senior UX Designer dalam menyelesaikan desain produk secara efektif dan efisien.

Bagaimana UX Team bekerja?

Masing-masing startup biasanya memiliki tahap yang berbeda-beda dalam mendesain sebuah produk. Namun, menurut Ervan, biasanya UX Team akan bekerja melalui empat tahap, yakni: identifikasi, membuat ide, eksekusi, dan ulangi lagi ke tahap pertama.

BACA JUGA : Strategi Mendapatkan Pendanaan di Tahap Awal

Identifikasi

Di tahap ini, UX Team harus bisa menyusun timeline dan target secara jelas. Yang perlu menjadi catatan adalah, apapun yang UX lakukan harus selalu berdasarkan data. Ketika kamu ragu-ragu dan menemui masalah, maka kamu harus kembali mengecek data dan tak boleh terlalu banyak berasumsi.

Ciptakan Ide

Langkah selanjutnya adalah melakukan riset terhadap calon pengguna, menyusun persona mapping, dan user flow. Sederhananya, persona mappingakan menangkap segala tingkah laku pengguna ketika menggunakan produk digital kamu. Sementara user flow adalah langkah-langkah yang harus dilakukan pengguna untuk mencapai tujuan tertentu saat menggunakan produkmu.

Eksekusi

Dalam tahap eksekusi, kamu harus bisa membedakan desain produk yang akan dibawa ke depan investor dan desain produk yang akan kamu rilis. Menurut Ervan, desain yang dipresentasikan di depan investor harus bisa menonjolkan hal-hal yang membuat mereka merasa tertarik dengan produk kamu, sedangkan desain untuk produk yang akan kamu rilis harus dapat memberi banyak manfaat bagi pengguna.

Ulangi lagi ke tahap pertama

Setelah melalui tahap identifikasi hingga eksekusi, yang perlu dilakukan UX Team adalah mengulang ke tahap awal. Proses ini dilakukan untuk menyelesaikan apa saja yang belum mencapai target.

Apakah kamu tertarik dengan topik yang dibawakan Ervan seperti di atas? Masih ingin tahu lebih banyak tentang UX? Tenang, tahun ini, Tech in Asia Product Development Conference 2019 (TIA PDC 2019) kembali hadir di Menara Mandiri, Jakarta, pada 3-4 Juli mendatang.

Salah satu praktisi yang telah mengonfirmasi akan hadir sebagai pembicara adalah VP of Product Design Bukalapak, Yoel Sumitro, dengan membawa topik bagaimana cara membangun tim UX yang efektif.

Jangan khawatir, selain Yoel, ada lebih dari 65 praktisi yang akan hadir sebagai pembicara dengan membawakan delapan track menarik lainnya seperti product management, product design, product leadership, product marketing, technology in focus, data & analytics, infrastructure, dan engineering.

Saat ini, kamu masih bisa mendapatkan tiket dengan diskon hingga 66 persen. Hanya dengan harga Rp499.000 per tiket, kamu dan dua orang temanmu bisa mendapatkan tiket dengan penawaran paling menarik ini.

Ingat, promo ini hanya berlaku sampai 7 April 2019 pukul 23.59 WIB. Jangan lupa ajak teman dan kerabatmu, ya!

Selain menghemat lewat Group Ticket, kamu juga bisa memperoleh harga khusus dengan membeli Corporate Pass. Jadi, segera ajak tim kamu untuk belajar bersama, dan dapatkan harga khusus untuk pembelian minimal sepuluh tiket TIA PDC 2019!

SUMBER

Share Is Cool