Anthony Tan, Pria Kaya Malaysia Pencipta Ojek GrabBike

JS NEWS Persaingan keras terjadi antara GrabBike dengan Go-Jek dalam bisnis ojek digital. Jika Go-Jek adalah perusahan lokal, GrabBike dicetuskan oleh pria kaya asal Malaysia bernama Anthony Tan. Seperti apa sepak terjangnya?

Sama seperti Nadiem Makarim, pendiri Go-Jek, Anthony Tan yang dilahirkan di keluarga berada ini adalah lulusan Harvard Business Shcool di Amerika Serikat. Sebenarnya, GrabBike hanya layanan tambahan dari layanan GrabTaxi yang idenya muncul di kepala Tan saat dia kuliah.

Dikutip dari Bloomberg, Rabu (29/9/2015), sewaktu kuliah itu ada temannya yang mengeluhkan sulitnya memesan taksi di Malaysia. “Apa yang salah dengan sistem taksi di negerimu?” tanya temannya itu.

“Kakek buyutmu kan sopir taksi dan kakekmu memulai industri mobil Jepang di Malaysia, jadi kamu harusnya berbuat sesuatu untuk mengatasi masalah itu,” kata temannya lagi.

Begitulah, tercetus ide di kepala Tan untuk membuat layanan pemesanan taksi berbasis aplikasi bernama GrabTaxi. Awalnya, namanya adalah MyTeksi, kemudian berubah nama jadi GrabTaxi pada tahun 2012.

Merasa mantap dengan aplikasi itu, Tan memilih meninggalkan bisnis keluarga. Padahal posisinya sudah bagus, yakni ditunjuk menjadi kepala marketing Tan Chong Motor Holdings, distributor mobil Nissan di Malaysia yang dijalankan oleh sang ayah, Tan Heng Chew.

“Membangun sesuatu dari bawah dengan hanya bermodal PowerPoint dan menyaksikan bagaimana hidup orang terkena pengaruhnya itu jauh lebih memuaskan,” demikian alasannya

Perjudian Tan sukses. GrabTaxi makin populer dan mendapat suntikan dana besar dari investor. Raksasa telekomunikasi Temasek dan Softbank termasuk yang jadi investor GrabTaxi.

Pada pengumpulan dana terakhirnya, GrabTaxi sukses mengumpulkan kucuran dana dari investor senilai USD 350 juta atau di kisaran Rp 4,8 triliun. Dengan demikian, GrabTaxi sudah mendapat kucuran uang total USD 700 juta dari investor sejak dirilis tahun 2012.

GrabTaxi mengekor sukses Uber, tapi fokus pasar mereka masih sebatas di Asia Tenggara. Cukup berbekal smartphone, orang bisa memesan taksi dengan mudah, sekaligus melacak di mana lokasinya.

GrabTaxi beroperasi di Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Indonesia dan Filipina. Sampai bulan Maret 2015, sopir taksi yang terdaftar di GrabTaxi telah mencapai 75 ribu. Aplikasinya bisa diunduh di Google Play, AppStore dan BlackBerry World.

Tan sudah berencana melantai di bursa saham jika pesanan GrabTaxi sudah tembus 2 juta per hari. Mereka juga melakukan diversifikasi bisnis, yakni dnegan GrabCar kemudian layanan ojek GrabBike.

GrabBike pertama kali dirilis di Vietnam di akhir 2014. Sekarang, GrabBike sudah merambah Jakarta dan Bangkok. Di Jakarta, GrabBike bertarung sengit dengan Go-Jek. Mereka berlomba menarik pengendara ojek, penumpang sampai perang tarif.

Tan memprediksi pengguna GrabTaxi akan terus melonjak seiring popularitas perangkat mobile. Pasarnya memang masih sangat besar. Di Indonesia misalnya, taksi yang dipesan dengan aplikasi masih di bawah 2%.

Meski Tan meninggalkan bisnis keluarga, tetap saja ia berkecimpung di bisnis transportasi. Kakeknya merintis perusahaan Tan Chong Motor yang sampai sekarang mengedarkan mobil Nissan di Malaysia.

“Aku hidup di bawah bayang-bayang kakekku. Namanya cukup terkenal di sini dan itu cukup melelahkan,” ujar Tan.

Maka, ia mendirikan GrabTaxi untuk lepas dari bayang-bayang keluarga dan mencoba mandiri. Sedangkan dua kakaknya masih bekerja di Tan Chong Motor. Jika performa GrabTaxi semakin moncer, bukan tak mungkin nama Anthony akan lebih tenar daripada sang kakek.

SUMBER

Share Is Cool