Studi Ungkap Orang Tua Sering Sebar Berita Palsu di Twitter

JS NEWS –  Studi gabungan yang dilakukan oleh Northestern University, Harvard University, dan University at Buffalo menemukan bahwa pengguna media sosial yang berusia tua dan lebih konservatif cenderung lebih sering menyebarkan berita palsu lewat layanan mikroblogging, Twitter.

Survei yang dilakukan terhadap pengguna internet sejak 1 Agustus hingga 6 Desember 2016 atau ketika pesta demokrasi Pemilihan Presiden AS ini mendapati orang tua sebagai pengguna media sosial yang antusias.

Dalam sehari pengguna Twitter dari kalangan tua rata-rata membuat 70 kali cuitan dalam sehari. Hanya 0,1 persen pengguna yang membagikan 80 persen berita palsu.

Profesor ilmu politik Northeastern University David Lazer mengatakan pihaknya menggunakan algoritme untuk mendeteksi peredaran berita palsu menggunakan kata-kata yang bisa membuat orang lain tersinggung.

Dengan mengkompilasi studi akademik, berita media dan pemeriksa fakta, peneliti bisa mendeteksi peredaran berita palsu hingga 90 persen pengguna.

“Hampir semua cuitan pengguna Twitter dari kalangan tua hanya memaparkan 1 persen pengguna Twitter,” ungkap Lazer seperti dilansir jurnal Science.

Tim peneliti mencocokkan lebih adri 16.400 akun Twitter yang mencuit menggunakan akun dengan nama asli mereka. Dengan begitu, ia dan tim memastikan ada sosok manusia di balik setiap berita palsu yang dicuitkan, bukan mengerahkan bot.

“Kita hampir pasti berurusan dengan orang sungguhan. Terlebih lagi, orang-orang ini memiliki atribut yang jelas, termasuk pandangan politik, jenis kelamin, dan usia,” imbuhnya.

Baca Juga : 2 April 2019, Tanggal Kematian Google+

Menurutnya, usia dan pandangan politik berpengaruh kuat pada kemungkinan seseorang membagikan berita palsu lewat Twitter.

Andrew Guess, ilmuwan politik dari Princeton University mengatakan temuan ini menunjukkan orang-orang yang paling mungkin bertemu dan berbagi berita palsu adalah ‘mereka yang mungkin juga terlibat dalam sistem politik’.

Namun, Guess mengatakan ia tim peneliti tidak mengetahui jelas usia sebagai faktor tertinggi dalam menyebarkan berita palsu.

“Kami memiliki generasi yang hidup di masa di mana kepercayaan terhadap institusi media sangat tinggi, dan sekarang mereka hanya lebih memercayai hal-hal yang ditemui online,” ucap Guess.

Lebih lanjut ia juga mengatakan bisa jadi generasi tua ini belum memiliki kemampuan untuk membedakan informasi online yang dianggap meragukan dan bisa dipercaya.

Sebelumnya studi serupa yang dilakukan oleh peneliti di Princeston dan New York University yang dipublikasikan oleh Science Advances mencatat 11 persen pengguna Facebook di Amerika Serikat berusia 65 tahun ke atas kerap berbagi hoaks. Sedangkan 3 persen pengguna berusia 18-29 tahun menyebarkan informasi palsu. 

SUMBER : CNN INDONESIA

Share Is Cool