Bisnis Software House yang Merevolusi Semua Bidang Bisnis

JS NEWS  Tak heran bila ada yang menjuluki Marc Andreessen sebagai ‘Orang yang Mengetahui Masa Depan’. Andreessen adalah penemu browser grafik pertama, Mosaic. Kemudian, ia sempat meramalkan akan adanya browser yang akan menjadi sistem operasi (sebelum kemunculan Chrome OS). Ia pula yang menjadi pionir cloud computing dengan mendirikan layanan LoudCloud.

Tak hanya itu, ia juga membuat prediksi: ‘Everything will be social’, dan ia mendirikan jejaring sosial Ning yang jauh mendahului Facebook. Ia pun menjadi salah satu mentor Mark Zuckerberg sejak periode awal Facebook berdiri. Lalu apa prediksi Andreessen berikutnya tentang kemajuan teknologi? Jawabannya: Software will eat the world!

Ide yang dimaksud Andreessen adalah, setiap perusahaan perlu menjadi perusahaan software, tak peduli apapun industrinya. Sebab, perusahaan dan bisnis apapun tak bisa menghindar pada kenyataan bahwa mereka harus tergantung dengan software dan memiliki layananan online.

Prediksi itu diutarakan Andreessen sejak sekitar 7 tahun lalu. Dan kini, toko buku terbesar adalah perusahaan berbasis software, Amazon, yang sama sekali tak punya toko ritel fisik. Layanan video terbesar saat ini, Netflix, juga sebuah perusahaan software, yang menyalurkan konten, bukan lagi melalui kabel fisik, melainkan langsung ke ponsel pintar dan tablet.

Demikian pula dengan perusahaan dominan di bidang musik; Apple iTunes, Spotifiy, dan Pandora, yang juga merupakan perusahaan software. Tak terkecuali dengan industri dan bidang-bidang lainnya, seperti perusahaan taksi yang makin tergusur oleh perusahaan ‘transportasi’ berbasis software (GoJEK, Uber, GrabBike). Atau industri hotel dan penginapan yang semakin terjepit oleh AirBnB.

Prediksi Andreessen itu, kini telah terbukti. Diperkuat lagi dengan prediksi CEO General Electric (GE) John Flannery. Tanpa ragu Flannery berkata: “Dalam waktu yang tak akan lama lagi, setiap karyawan di setiap bidang bisnis, akan membutuhkan pemahaman dasar untuk melakukan coding, dan setiap pekerjaan membutuhkan beberapa kemampuan di bidang software.”

Perkataan Flannery tadi bukan sekadar pernyataan kosong. GE telah menerapkan sebuah sistem pengembangan aplikasi low code peningkatan produktivitas yang dinamakan Predix Studio. Sistem yang dibangun dengan pendekatan Artificial Intelligence dan algoritma Machine Learning ini memungkinkan karyawan untuk mempelajari data terkait dengan proses kinerja, memahami pola dan membuat analisa efisiensi, serta membuat aplikasi maupun ekstensi dari aplikasi yang ada.

“Dalam waktu yang tak akan lama lagi, setiap karyawan di setiap bidang bisnis, akan membutuhkan pemahaman dasar untuk melakukan coding, dan setiap pekerjaan membutuhkan beberapa kemampuan di bidang software.”

Tentu saja, untuk menjawab tantangan di atas, diperlukan sumber daya manusia (SDM) berkualitas di bidang IT dan software. Namun, sampai kini jumlah SDM di bidang software dirasa masih sangat langka, dan kualitasnya pun belum memadai. Di satu sisi, kata Andreessen, software engineer yang memenuhi kualifikasi, bisa meraih gaji dan pendapatan yang begitu fantastis. Tapi di sisi lain, jumlah pengangguran dan SDM yang tak memenuhi kualifikasi begitu tinggi. “Ini merupakan sebuah tragedi,” kata Andreessen.

Tak ada cara lain, menurut Andreessen, problem ini harus dipecahkan melalui edukasi dan pendidikan. Tantangan ini, tentu saja sekaligus menjadi sebuah peluang bagi yang bisa memanfaatkannya. Bila Anda tak ingin kehilangan kesempatan, jadilah seorang software engineer yang bisa diandalkan mulai sekarang. Tak ada kata terlambat, karena revolusi software masih dan akan terus berjalan hingga beberapa tahun yang akan datang.

SUMBER

Share Is Cool