RADIKALISME

JS NEWS Peristiwa teror di paris, perancis, dengan banyak korban tewas membawa kecemasan baru dunia.

Kota yang selama ini dikenal damai mendadak menjadi tempat pertumpahan darah. Konflik ternyata tidak cukup terisolasi di wilayah tertentu terapi bisa menyebarke berbagai tempat. Siapa pun bisa jadi korban, tidak peduli bersalah atau tidak, terlibat langsung atau tidak.

Namun, ada fenomena menarik dari teror tersebut, yaitu simpati yang terbelah. Ketika sebagain orang menyatakan simpati, misalnya #prayforparis, sebagian yang lain merasa terusik. Kenapa tidak dengan suriah, palestina, kenya, dan tempat – tempat berdarah lainnya ? muncul argumen, perdebatan, hingga tudingan tidak perlu. Mengapa simpati spontan saja samapai dipersoalkan?.

Salah satu kekhawatiran dengan meluasnya akses internet adalah munculnya bibit – bibit radikalisme. Radikalisme bisa diartikan menginginkan perubahan dengan cara – cara ekstrem bahkan kekerasan. Kaum radikal sering kali memaksakan kehendak dan menentang mereka yang berlawanan. Salah satu sumber munculnya paham radikal adalah ajaran agaman, meskipun bila ditelaah secara obyektif penyebabnya lebih pada unsur ekonomi.

Kita ambil contoh konflik di suriah. Sebelum muncul demonstrasi besar di tahun 2011, berlanjut hingga perang sipil saat ini, kondisi ekonomi di sana sedang suram. Terlihat dari angka – angka berikut : pengangguran 20%, kemiskinan 30%, dan pendapatan rendah ( kurang dari US$100) mencapai 70%. Pendapatan dari ekspor minyak dan pertanian tidak mampu menompang kebutuhan rakyat. Apalagi di tengah hatga komoditas dan perubahan iklim yang tidak menentu.

Realaitas ada di satu sisi, kepentingan ada di sisi lain. Apalagi internet adalah ladang subur untuk menyebarkan ideologi. Bagi kaum fanatik ajaran agama, tentu isu – isu berlatar agama yang ditonjolkan. Bagi para pengamat politik, dibuatlah berbagai teori konspirasi. Materi yang disampaikan bercampur aduk, antara berita, opini, sensasi, hingga fitnah. Padahal tujuan para oportunis tidak lain dan tidak bukan hanya satu, yakni uang.

Mencermati pertarungan pendapatan di media sosial, saya khawatir secara tidak sadar banyak orang terlarut pada pemaksaan kehendak. Melawan semua pendapatan yang bertentangan, pelan tapi pasti arahnya adalah radikalisme. Apalagi generasi muda gampang terpengaruh dan belum teruji prinsip hidup. Kita tidak ingin kebebasan berpendapat membawa akibat fatal.

Bagaimana menangkal radikalisme? Cara paling efektif adalah mengembangkan akal sehat. Misalnya, bila agama mengajarkan kedamaian, tentu tidak masuk akal bila kekerasan menjadi solusi. Bersikap kritis terhadap informasi yang diterima, lakukan cross-check dengan berbagai pendapatan yang berbeda. Jurnalisme yang benar memberitakan secara berimbang, memenuhi asa fairness terhadap informasi.

Pola pikir masyarakat juga berpengaruh besar terhadap rasionalitas. Negara – negara maju seperti amerika serikat dan jepang bertumpu pada industrialisasi di segala bidang. Mereka banyak mengandalkan kekuatan otak, mengembangkan pengetahuan dan teknologi. Bandingkan dengan masyarakat yang bertarung pada kekayaan alam, rawan konflik dan pertikaian. Terlena dengan kemurahan alam condong membuat kekmampuan pikir kurang terlatih.

Sesungguhnya bangsa indonesia beruntung hidup dalam perbedaan yang mengakar di kehidupan sehari – hari. Toleransi terhadap perbedaan suku, agama, ras, dan golongan sudah berjalan dengan baik. Perbedaan telah menjadi rahmat sekaligus kekuatan bangsa. Hanya saja sejumlah oknum mencoba menyebarkan paha – paham yang menjurus radikalisme, memecahkan belah bangsa.

Memang ada kalanya perbedaan pendapat tidak mendapatkan titik temu. Solusinya tegas saja, kembali ke konstitusi. Kesepakatan kita semua, sebagai warga negara mengakui landasan hukum pancasila dan uud 1945. Demi kepentingan bangsa dan negara, segala perbedaan dari sumber – sumber lain harus ditepikan dulu, termasuk perbedaan dari sisi agama.

Semua orang harus sadar bahwa kita hidup di dunia yang sama. Radikalisme pada akhirnya hanya membawa perpecahaan dan penderitaan. Pertikaian tiada henti di timur tengah memberi contoh betapa mahalnya harga sebuah kedamaian. Sekaligus memberi hikmah, kembangkan pengetahuan dan teknologi demi kesejahteraan yang berkelanjutan. Perbedaan itu satu yang niscaya. Seperti kutipan puisi Gus Mus,kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana?.

Sumber : PCMedia Edisi :01/2016 (Diakses pada tanggal :28/03/2016 )

Share Is Cool

Leave a Reply

Your email address will not be published.