DELUSIONAL

JS NEWS Gambar meme di media sosial cukup menyentak perhatian. Barang kali tampak biasa, tetapi sebenarnya terkandung makna yang dalam di sana. Apalagi jika dikaitkan dengan kesibukan umat islam menjelang ramadhan kemarin. Kegiatan yang bersifat keagamaan, dengan ganjaran berupa surga atau neraka.

Saya teringat satu istilah dalam ilmu psikologi, yaitu delusional. Sebuah perilaku yang tidak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan. Sering kali uamt beragama terjebak pada cara pandang yang tidak tepat. Ketika berada di dunia, mereka terlalu berorientasi ke langit. Menghitung banyak hal dngan ukuran abstrak seperti pahala dan dosa, padahal keduanya merupakan kewenangan mutlah dari tuhan.

Masalahnya, kini adalah era globalisasi. Era dimana persainganya antar negara sangatlah nyata. Dalam konteks teknolgi, negara yang unggul adalah mereka yang kaya inovasi. Inovasi tidak bisa dilahirkan dalam khayalan, melainkan melalui kerja nyata dengan hasil yang konkret. Inovasi yang melahirkan produk-produk bermanfaat bagi segenap umat manusia. Setelah kerja konkret tadi ganjarannya surga atau neraka, itu sepenuhnya urusan tuhan.
Contoh yang aktual akhir-akhir ini adalah serbuan aplikasi Over the Top ( OTT ) ynag semakin mengkhawatirkan. Produk global, seperti Facebook, WhatsApp, dan Instragram kian tak terbendung dan menguras devisa negara. Aplikasi Instant Messaging ( IM ) seperti BBM, WhatsApp, dan Line telah sukses menggusur SMS. Layanan voice pun secara perlahan mulai terancam. Operator telekomunikasi pada akhirnya hanya sebagai penyedia jaringan internet.

Tidak hanya skalabilitas dan keandalan, tetapi terutama teknologi dibalik OTT lokal tersebut. Argumen bahwa teknologi hebat, tentu lebih memilih investor di silicon Valley dari pada di indonesia. Seseoarang rekan di facebook pernah mengkritik sebuah IM lokal, jangan pakai XYZ Messenger . Sejumlah celah keamanan mengintai di sana. Mulai dari password yang plaintext, SSL yang self signed, hingga protokol XMPP yamng tanpa enskripsi. Teknologi tak cukup hanya mengolah data, tetapi juga menimpannya. Sebagai contoh situs web berbagai video, youtube. Komponen penayang gambar mudah saja menggunakan plugin seperti flash. Namun, bagaimana teknologi untuk menyimpan upload video publik hingga 5 jam setiap detik? Berapa petabyte, exabyte, atau bahkan zettabyte dari storage yang diperlukan? Bagaimana cara mengelola penyimpanan raksasa tersebuut? Jawabannyamenjadi rumit atau sangat rumit.

Satu hal yang mengherankan, mengapa semua operator besar tampak lalai melihat peluang? memang, apakah itu OTT lokal setidaknya meminimalkan biaya penggunaan bandwitdth luar negeri. Aplikasi pun dapat dikembangkan untuk membuka berbagai peluang bisnis lokal lain. Secara bisnis, modal besar harusnya bukan masalah bila akan didapat hasil yang besar pula. Memang tak ada kata terlambat untuk mendorong OTT lokal berkembang. Tugas terberat adalah menyakinkan kita semua bahwa aplikasi lokal memiliki kualitas satara produk globa. WhatsApp pun baru mulai tahun 2009 hanya oleh dua orang, tetapi kini mampu memiliki 800 juta user aktif. Kuncinya adalah keseriusan dan konsistensi. Tak lagi bicara wacana atau rencana, tetapi kerja, kerja, kerja tanpa henti. Persaingan di industri TIK memang keras, dibutuhkan ide kreatif dan inovasi untuk dapat tetap bertahan.
Rasanya, kita tidak bisamundur lagi. Salah satu langkah memulai adalah melalui para operator dengan membuat OTT tandingan. Sumber daya yang terserak di berbagai penjuru dapat dikumpulkan, misalnya diaspora yang berprestasi dinegri lain. Kita bisa mencontoh Jack Ma dengan Alibaba-nya yang memecahkan rekor terbesar IPO dunia. Ia memanfaatkan semangat bertarung dari diaspora Tiongkok yang melihat tantangan sebagai peluang. Ya, bertarung dengan aksi dan ukuran yang nyata, tidak lagidelusional.

Sumber : PC Media Edisi : 07/2015 ( Diakses Pada Tanggal : 18/09/2015 )

Share Is Cool

2 thoughts on “DELUSIONAL

Leave a Reply

Your email address will not be published.