Alibaba Mengepung Kota dan Desa di Cina Hingga Indonesia

JS NEWS Alibaba Group berkembang dari e-commerce kelas dunia menjadi perusahaan inovator bidang teknologi. Xu Bingbing memilih meninggalkan ingar bingar kota dan kembali ke desa. Wanita berusia 29 tahun itu kembali ke Desa Bainiu, Qianchuan, Provinsi Zhejiang, Cina untuk ikut mengembangkan kehidupan petani. Xu menjadi salah satu pengepul produk kacang kenari dari para petani di desanya lalu menjualnya secara online dengan bantuan platform e-commerce milik Alibaba Group, Taobao.com dan Tmall.com.Ia mengawali bisnisnya dengan modal 20 ribu yuan.

Desa Bainiu merupakan salah satu Taobao Village sebuah julukan bagi desa yang “melek” dengan pusat perdagangan daring. Di desa ini ada 68 toko online, salah satunya dikelola oleh Xu. Sudah sejak tahun 2007 desa tersebut tersentuh layanan e-commerce. 

Teknologi internet memang telah mengubah kehidupan warga Bainiu, rantai pemasaran produk hasil pertanian semakin dekat dengan pasar dan akses yang semakin luas. Penjualan online Desa Bainiu mencapai 350 juta yuan pada tahun lalu.

“Volume perdagangan di sini sudah naik 40 kali lipat,” kata Xu yang juga menjabat Sekjen Bainiu Village Public Service Center of Electronic Commerce. Xu memberikan pemaparan tersebut kepada sejumlah jurnalis yang mengikuti “Alibaba Campus Media Tour” di Desa Bainiu, Qianchuan, Provinsi Zhejiang, Cina pada Selasa, 17 April 2018 lalu.

Desa Bainiu hanya potret kecil dari skenario besar Alibaba, dari apa yang mereka namai Rural Taobao. Rural Taobao merupakan proyek penting Alibaba Group, tujuannya untuk mempromosikan transaksi kawasan perdesaan dan perkotaan di Cina. Alibaba membangun jaringan pusat pelayanan e-commerce di level kabupaten hingga ke tingkat desa, demi menghilangkan keterbatasan logistik dan jalur masuknya informasi ke desa.

Muara dari program ini adalah membuat Alibaba berjejaring hingga ke pelosok Cina. Ada 600 juta lebih penduduk Cina tinggal di desa. Berdasarkan China Internet Network Information Center (CNNIC) tingkat penetrasi internet di kawasan pedesaan Cina akhir 2016 mencapai 27 persen atau sekitar 200 juta jiwa lebih dan meningkat jadi 35,4 persen di akhir tahun lalu. Ini jadi potensi pasar e-commerce yang patut dikelola dan disambar oleh Alibaba.

Sejak Oktober 2014, Alibaba Group menggelontorkan 10 miliar yuan untuk membangun 1.000 pusat layanan Rural Taobao tingkat kabupaten dan 100.000 pusat pelayanan tingkat desa di Cina. Sampai November 2017, Rural Taobao telah mendirikan lebih dari 30.000 pusat pelayanan desa di 29 provinsi. Program ini menyasar pemberdayaan anak-anak muda di desa.

Selain Xu Bingbing, ada Zheng Weiling, seorang mantan karyawan yang bergelar sarjana, memutuskan membuka pusat layanan Rural Taobao di kampung halamannya Desa Leping, Qianchuan, Provinsi Zhejiang sejak 2015. Di pusat layanan ini, warga desa dapat mengakses produk dan layanan dari market place online Rural Taobao atau cun.taobao.com yang melayani distribusi barang dari transaksi belanja online, membayar tagihan, membeli pulsa, dan memesan tiket hingga penginapan.

Membayangkan pusat layanan Rural Taobao di Desa Leping yang lokasinya harus ditempuh dua jam perjalanan darat dari Kota Hangzhou, mirip gerai perusahaan logistik di Indonesia dengan fasilitas ruangan berukuran 3×3 meter dengan perlengkapan komputer dan internet. Bedanya layanan gerai ini bukanlah perusahaan logistik. Setiap hari, Zheng melayani distribusi barang yang dibeli warga desa sampai 80-90 item barang. Gerainya menjadi jembatan untuk barang-barang yang dipesan warga via online di lima desa sekitar pusat layanan Rural Taobao.

Pembeli online di desa Leping sebelumnya harus menempuh jarak 20 km untuk mengambil barang pesanan via online di pusat kecamatan. Warga desa semakin semangat mengakses e-commerce karena adanya layanan logistik yang efisien dan cepat.

“Jadi barang yang datang ke sini bisa mereka sendiri yang datang untuk ambil, atau kita antarkan. Jarak pengantaran sampai 3 km,” kata perempuan kelahiran 1986 ini. Ia sendiri rata-rata meraih pendapatan komisi dari pembelian barang sampai 6.000 yuan per bulan.

Alibaba tak hanya fokus pada pusat layanan Rural Taobao sebagai ujung tombak bisnis retail di pelosok, tapi juga menyediakan “mesin penggerak” arus barang dengan Cainiao Network. Anak usaha Alibaba Group ini bukanlah perusahaan logistik, tapi sebagai operator data logistik yang berpartner dengan berbagai perusahaan logistik di Cina maupun dunia. Konsepnya memanfaatkan data intelijen logistik, agar rantai pasok lebih efisien dan cepat di tengah masifnya belanja online di Cina.

“Kami ingin bisa sukses mengirim ke mana pun di Cina sampai kurang dari 24 jam, dan lintas negara di dunia dalam 72 jam,” kata Senior Director Cainiao Network Southeast Asia Shong Kwong Au Yeong.

Bagi masyarakat desa Leping atau Bainiu dan pedesaan lainnya di Cina, penetrasi Alibaba sampai ke pelosok desa tentu bisa dimaknai sentuhan teknologi mampu meningkatkan geliat retail dan ekonomi petani di desa. Namun, bagi Alibaba penetrasi sampai ke ujung desa menjadikan e-commerce Alibaba ibarat gerai retail “raksasa” yang menembus desa hingga kota.

Di perkotaan Cina, e-commerce bukan lagi masalah, karena dukungan penetrasi internet yang memadai dan sistem pembayaran digital yang masif seperti yang dikembangkan Alibaba melalui Alipay. AliPay sedikitnya punya 520 juta pengguna aktif bulanan di Cina.

Di segmen ini, Alibaba Group menancapkan bisnis jasa keuangan di bawah bendera Ant Finance. Selain sistem pembayaran via Alipay, Ant Finance juga melayani asuransi dan pinjaman termasuk di pedesaan. Melalui unit bisnis MYbank, Ant Finance menyasar pembiayaan usaha mikro, dan sejak 2015 sudah melayani 7 juta pelaku usaha mikro.

Jaringan bisnis Alibaba yang menopang dari hulu ke hilir dan dari kota dan desa, juga diperkuat dengan layanan data. Logikanya, saat pelaku usaha diberikan akses pasar dan layanan pembiayaan maka bisnisnya akan berkembang, maka setelahnya adalah kebutuhan data jadi hal yang tak kalah penting. Ini lagi-lagi jadi pasar yang menggiurkan bagi Alibaba.

Di sinilah kecerdikan Alibaba, mereka mengembangkan platform layanan bisnis bernama ET Brain yang memakai teknologi artificial intelligence (AI) dalam memanfaatkan big data. ET Brain bagian dari layanan jasa di bawah Alibaba Cloud yang menyediakan rangkaian komputasi awan untuk kepentingan pengelolaan data market place Alibaba, korporasi, pemerintahan, hingga hal spesifik seperti medis, industri, lingkungan, retail, penerbangan, bahkan kota pintar atau smartcity.

Salah satu yang sudah berjalan adalah ET Brain City. Pada September 2016, City Brain digunakan di distrik Xiaoshan, Kota Hangzhou. Penggunaan teknologi ini berhasil mempercepat waktu berkendara di kota sebesar 15 persen. ET Brain City dipakai di Hangzhou karena banyak kasus korban kecelakaan terjebak macet di jalan saat akan mendapat pertolongan.

Pada Juli 2017, penggunaannya diperluas hingga ke pusat kota Hangzhou, meliputi jalan-jalan utama Hangzhou. Selain itu, kemampuan City Brain bisa menilai rute perjalanan yang paling cepat dan mengatur lampu lalu lintas dalam
keadaan darurat, juga memangkas 50 persen waktu perjalanan rata-rata ambulans di Xiaoshan.

Pada Agustus 2017, Alibaba bermitra dengan pemerintah Macau untuk menjadikan Macau menjadi kota pintar dengan menggunakan teknologi komputasi awan untuk penduduk kota dan turis. Pada Januari 2017, Alibaba Cloud juga mengumumkan peluncuran Malaysia City Brain atau smartcity di Kuala Lumpur. Masuknya Alibaba pada bisnis di luar e-commerce di Asia Tenggara, semakin mempertegas upaya memperkuat pengaruh bisnis mereka di kawasan, tak kecuali di Indonesia.

Infografik jejaring bisnis grub alibaba di indonesia

 

Alibaba di Indonesia

Segala kemajuan Alibaba di Cina menjadi bukti bisnis yang dibangun oleh sejak 1999 sudah tak hanya sebagai perusahaan e-commerce yang berkembang, tapi sebagai perusahaan inovator. Transformasi ini pun dibarengi dengan upaya perluasan pasar Alibaba di luar Cina, tak kecuali pasar potensial seperti Indonesia.

Mari kita kupas satu per satu jejak dan embrio jejaring bisnis Alibaba di Indonesia. Di bidang logistik misalnya, untuk menopang jaringan sistem data logistik, Cainiao Network sudah bekerjasama dengan Lazada dan Pos Indonesia. Khusus Lazada, Alibaba sudah berinvestasi di platform e-commerce papan atas di Indonesia ini. Dalam laporan Reuters, belum lama ini Alibaba sudah menggandakan investasi di Lazada hingga $4 miliar.

Medio 2017 lalu, Alibaba dan J&T Ekspress mengumumkan peresmian J&T Alibaba, bisnis baru yang dibentuk khusus menyasar segmentasi e-commerce B to B di bawah Alibaba.com. Menurut laporan dailysocial, J&T Alibaba menyediakan fasilitas keanggotaan dan pelatihan bagi pelaku UKM di Indonesia.

Keanggotaan ini menjadi syarat utama yang bisa dimanfaatkan pengusaha UKM sebelum mengakses platform Alibaba. Alibaba.com sudah memiliki mitra supplier di Indonesia dari kalangan UMKM terutama dari pengusaha produk ekspor unggulan Indonesia seperti furnitur antara lain di Jepara. Untuk menjadi keanggotaan calon supplier harus merogoh kocek Rp20,5 juta per tahun.

Jauh lebih dalam ke bidang digital payment, sejak tahun lalu dompet digital (e-wallet) Dompet Digital Indonesia atau DANA lahir atas kerja sama PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTEK) dan Ant Financial (Alibaba Group). Seperti ditulis Techinasia, DANA sudah meluncur Maret 2018 lalu mengusung open-platform atau mirip Alipay yang ada di Cina. DANA juga menjadi penantang layanan e-money yang sudah ada seperti Go-Pay, OVO, Grab-Pay. DANA yang digadang-gadang sebagai calon “Alipay” Indonesia ini juga menyediakan layanan transaksi di e-commerce.

E-commerce memang masih jadi inti bisnis Alibaba. Di Indonesia, Alibaba juga berinvestasi pada e-commerce Tokopedia. Aliansi investasi ini tak disia-siakan untuk memasukkan inovasi teknologi ET Retail Brain buatan Alibaba pada Tokopedia, seperti data intelijen pencarian gambar berdasar kebiasaan pengunjung, meningkatkan pengalaman pencarian pengguna Tokopedia dan sebagainya.

Namun, pihak Tokopedia mengklarifikasi ihwal ini, melalui COO Tokopedia, Melissa Siska Juminto, ia menegaskan “Tokopedia tidak menggunakan teknologi ET Retail Brain dan kami juga memiliki peraturan ketat untuk tidak memberikan data ke pihak eksternal manapun, termasuk investor.”

Kehadiran Alibaba di Indonesia dalam bisnis lainnya ditandai beroperasinya data center Alibaba Cloud sejak Maret 2018 lalu di Jakarta. Pembangunan data center Alibaba Cloud di Indonesia tentu bukan tiba-tiba. Dari sekian 200 lebih negara di dunia, Indonesia satu negara yang terpilih dari 18 data center yang telah dibangun oleh Alibaba.

Pembangunan data center Alibaba pastinya untuk mendukung bisnis inti mereka seperti Alibaba.com atau Lazada.com dan lainnyaNamun, potensi pasar lainnya yang tak kalah besar adalah layanan ET Brain yang sudah diterapkan di beberapa kota di Cina, sangat memungkinkan diterapkan di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta yang masuk daftar kota paling macet di dunia versi Tomtom. Kondisi ini jadi celah bisnis yang menggiurkan bagi Alibaba di Indonesia.

Dalam mengembangkan bisnis, Alibaba berpegang pada tiga prinsip yaitu globalisasi, pengembangan pedesaan, big data dan cloud. Sedangkan untuk dekade berikutnya mereka berambisi mendukung 10 juta pelaku usaha dan melayani 2 miliar konsumen di seluruh dunia. Tentu saja di Indonesia yang punya populasi 250 juta jiwa dengan penetrasi pengguna internet yang terus meningkat dari 52 persen jadi 54 persen pada 2017, jadi pasar yang menarik. Apalagi penetrasi pengguna internet di pedesaan di Indonesia juga cukup tinggi hingga 40 persen lebih.

Mengutip ucapan Jack Ma, saat mendirikan Alibaba hampir dua dekade lalu. Ia punya visi melayani banyak orang di dunia. “Jika sebuah perusahaan bisa melayani dua miliar konsumen, artinya itu sepertiga dari total populasi dunia,”

“Jika perusahaan bisa menciptakan 100 juta pekerjaan, ini lebih besar dari pemerintah yang bisa lakukan. Ini namanya ekonomi,” kata Jack Ma.

Penulis: Suhendra

SUMBER 

 

Share Is Cool